Sejumlah aktivitas mahasiswa melakukan aksi teatrikal arogansi Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, saat berunjuk rasa di Gedung Pusat Promosi Potensi Daerah (GPPPD) Sukoharjo, Jumat (28/2/2014) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Sejumlah aktivitas mahasiswa melakukan aksi teatrikal arogansi Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, saat berunjuk rasa di Gedung Pusat Promosi Potensi Daerah (GPPPD) Sukoharjo, Jumat (28/2/2014) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Jumat, 28 Februari 2014 23:30 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

PASAR IR SOEKARNO SUKOHARJO
Pengunjuk Rasa Gagal Duduki Eks Gedung Lawa

Solopos.com, SUKOHARJO–Pengunjuk rasa gabungan pedagang Pasar. Ir. Soekarno, Sukoharjo, Jumat (28/2/2014) sore bersama aliansi buruh dan mahasiswa, gagal menduduki Gedung Pusat Promosi Potensi Daerah (GPPPD) di lahan eks Gedung Lawa.

Pengamatan Solopos.com, upaya pengunjuk rasa menduduki gedung bernilai sekitar Rp21 miliar terhadang barikade aparat kepolisian. Namun mereka berhasil merangsek ke halaman dan lobi gedung. Padahal sebelumnya petugas memasang tanda larangan masuk area GPPD.

Di lobi gedung, pengunjuk rasa berorasi dan duduk-duduk. Sebagian yang lain memasang spanduk bertuliskan Pasar Darurat Pasar Sukoharjo. Pengunjuk rasa juga melakukan aksi teatrikal menggambarkan arogansi dari Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya kepada pedagang.

Aksi tersebut dilakukan oleh mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIMUS. Pengamatan Solopos.com sosok Bupati Sukoharjo diperankan oleh mahasiswa bertubuh tambun. Yang bersangkutan mengenakan topeng bergambar wajah orang nomor satu di Kota Makmur.

Sedangkan pedagang pasar diperankan mahasiswa bertubuh kerempeng. Dalam aksi tersebut pemeran pedagang diinjak, ditendang dan diseret menggunakan tali oleh pemeran tokoh bupati. Perbuatan tersebut dihentikan oleh tokoh lain representasi dari kekuatan rakyat.

Tokoh yang muncul terakhir ini mampu menghentikan sikap arogan bupati. Ketua Himpunan Pedagang Pasar Kota Sukoharjo (HPPKS), Fajar Purwanto, ditemui wartawan mengatakan tuntutan pedagang yakni penyelesaian proyek Pasar Ir. Soekarno yang mangkrak sejak 2012.

Sembari menunggu penyelesaian proyek, Wanto panggilan akrabnya, mengatakan, pedagang ingin menempati GPPPD. Alasannya, kondisi pasar darurat selama ini dinilai kurang representatif. “Pedagang ingin berjualan di eks Gedung Lawa, sebagai pasar darurat,” kata dia.

Namun pengamatan Solopos.com, sekitar pukul 15.00 WIB pengunjuk rasa meninggalkan GPPPD. Mereka kembali ke pasar darurat. Selama menduduki GPPPD, tidak ada satu pun pejabat di Pemkab Sukoharjo yang menemui mereka. “Kami putuskan pulang ke pasar,” sambung dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
WEDHANGAN GULO KLOPO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…