Pasangan GKR Bendara bersama sang suami KPH Yudanegara saat ditemui di Gedong Jene, Kompleks Keraton Ngayogyakarta, Kamis (27/02/2014). (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Jumat, 28 Februari 2014 08:15 WIB Andreas Tri Pamungkas/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

MENANTI CUCU SULTAN
Bukan Elizabet, John, atau William

GKR Bendara tengah menantikan kelahiran anak pertamanya. Meski hari perkiraan lahir (HPL) jatuh pada 20 Februari, hingga kemarin, Bendara masih tetap beraktivitas. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Andreas Tri Pamungkas.

“Tonight i will sleep, hugging my hubby. Appreciate our limited time together even more…” Begitu GKR Bendara menuliskan status di contact whatsapp miliknya. Molornya kelahiran sang buah hati, justru menjadi kesempatannya untuk merasakan kebersamaan dengan suami.

Pasalnya, selama mengandung, wanita yang memiliki nama kecil Wijareni ini lebih banyak ditinggal KPH Yudonegoro, suaminya yang sedang menempuh studi di Yamaguchi University Jepang.

Terakhir mereka terlihat bersama-sama di Jogja, sewaktu pemutaran pernikahannya di XXI yang bersamaan dengan pernikahan kakaknya GKR Hayu Oktober 2013 lalu.

Mendekati hari perkiraan lahir (HPL) pada 20 Februari, Kepala Subtansi Komunikasi Politik Bidang Media Cetak Sekretariat Wakil Presiden itu terbang ke Jogja untuk menemani istrinya melahirkan. Namun lebih tujuh hari, anak dari buah perkawinan pada Oktober 2011 silam itu belum juga lahir. “Malam ini saya akan tidur, memeluk suami saya. Menghargai waktu kebersamaan yang terbatas,..” begitu setidaknya curahan hati Jeng Reni yang tersirat dalam statusnya.

Saat ditanya Harian Jogja mengenai kemungkinan habisnya masa cuti suaminya meski belum melahirkan, Reni menjawab, “Ya mau gimana…HPL-nya sih tanggal 20.”

Lebih dari itu, kebersamaan itu berasa lengkap karena saat ini Reni berada di kediaman orangtuanya, di Kraton Kilen, kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Perhatian yang ia rasakan mengalir dari kedua orangtua dan kakak-kakaknya. “Iya nih pada ngumpul, yang siaga bukan hanya suami tapi ibu [GKR Hemas] juga.”

Kebersamaan Jeng Reni dan suaminya itu kemarin terlihat di Gedong Jene, Kraton bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X dan kerabat Kraton lainnya. Reni dan suaminya turut menjamu kunjungan Rektor Universitas Leiden, Belanda. Kampus itu merupakan tempat kuliah eyangnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dengan menggunakan long dress bercorak merah, perut Jeng Reni yang membuncit jelas terlihat. Di hadapan awak media, mereka menunjukkan kemesraannya selama penantian buah hatinya dengan saling meledek. “Bayinya sehat beratnya 3,2 kilogram, kalau kamu 62 kilogram, berarti naik 13 kilogram ya,” ujar pria bernama asli Achmad Ubaidilah sambil melirik istrinya yang dirangkulnya. “Hush…hussh…,” sontak Jeng Reni langsung membalas omongan suaminya.

Jeng Reni mengaku telah memeriksakan ke dokter kandungannya, Dokter Rukmono di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito pada Rabu (26/2/2014). Dokter, kata dia, mengatakan tiga hari ke depan anak pertamanya itu belum akan lahir. Bayi pertama menurut dokter biasa lahir molor dari HPL.

“Dokter menawarkan induksi atau sesar kalau belum keluar, tapi lihat satu dua hari ke depan,” ujar perempuan penggemar mobil mini morris ini.
Ia berharap dapat melahirkan anaknya secara normal dengan ditungguin Ubay di ruang persalinan.

Ultrasonography (USG) untuk mengetahui jenis kelamin anaknya itu tetap tidak dilakukannya, karena ia ingin memberikan kejutan. Namun, banyak yang menebak, termasuk GKR Hemas anaknya adalah laki- laki. “Karena katanya bentuk perutnya ke depan.”
Kendati belum mengetahui jenis kelamin anaknya, mereka sudah menyiapkan perlengkapan bayi termasuk baju bayi. Warna kuning dan hijau dipilihnya, karena kalau warna lain seperti biru lekat dengan warna untuk laki-laki, sedangkan merah jambu dekat dengan warna perempuan.

Soal nama, Jeng Reni menyerahkan kepada orangtua, seperti dulu eyangnya memberikannya nama. Ubay dan Jeng Reni berharap nama itu mengandung arti berbakti kepada orangtua dan agama. “Yang jelas bukan Elizabet, John, atau William. Setop? Ini Jawa,” kelakar Jeng Reni.

lowongan kerja
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…