Jumat, 28 Februari 2014 16:38 WIB Solo Share :

GAGASAN
Mobil Datang Tuhan Hilang

Muhammad Milkhan milkopolo@rocketmail.com Bergiat di Bilik Literasi Solo Alumnus Program Studi Muamalat Fakultas Syariat IAIN Surakarta Tinggal di Klaten

Muhammad Milkhan
milkopolo@rocketmail.com
Bergiat di Bilik Literasi Solo
Alumnus Program Studi Muamalat
Fakultas Syariat IAIN Surakarta
Tinggal di Klaten

Di antara syarat orang yang mendapat kewajiban untuk melaksanakan salat adalah seseorang yang sudah balig dan ber-akal. Ketentuan balig dan berakal tentu merujuk kepada kemampuan seseorang untuk memilih dan memilah kebaikan dan keburukan suatu hal.

Anak kecil yang belum bisa melakukan identifikasi baik dan buruknya suatu hal tidak mendapatkan beban untuk melakukan salat. Namun demikian, sebagai orang tua tentu mempunyai kewajiban untuk melatih anak-anak sejak awal agar sejak dini mengenal ibadah wajib bagi kaum muslim ini.

Dalam imajinasi seorang anak, ibadah salat tak berbeda dengan olahraga senam. Mereka mungkin hanya memahami bahwa ritual ibadah wajib ini hanya menghasilkan kelelahan fisik dan suasana hening yang membosankan.

Ini tentu sangat bertolak belakang dengan dunia anak-anak yang riuh dan penuh dengan gerak fisik yang lincah dan tak beraturan. Untuk mengondisikan kebiasaan beribadah salat, sering kali orang tua mengajak anaknya untuk ikut salat berjemaah di masjid.

Mereka membiarkan anak mereka untuk melakukan aktivitas yang mereka kehendaki ketika si orang tua sedang melaksanakan salat. Ini menjadi salah satu pola pembiasaan kepada anak agar tatapan mata, juga indra pendengaran mereka, terbiasa dengan ibadah salat beserta bacaan di dalamnya yang dilakukan oleh orang tua mereka.

Hingga pada masanya kelak, seorang anak akan lebih mudah menerima pelajaran ibadah salat karena hal itu sudah sering ia lihat dan ia dengar dari kebiasaan orang tuanya. Balig hanyalah tanda seseorang mulai diberi tanggung jawab ibadah.

Kondisi balig ini seperti halnya pintu masuk seseorang dalam ranah kewajiban malaksanakan semua ibadah wajib yang diperintahkan agama. Sedangkan berakal juga menjadi syarat mutlak bagi seorang hamba yang sudah balig untuk melaksanakan kewajiban agama tersebut. Seorang yang gila atau stres tidak dikenai wajib ibadah.

Akal dalam konteks ini tentu merujuk kepada kemampuan untuk mengolah daya pikir seseorang terhadap kondisi dirinya dan kebutuhan dirinya. Ibadah sejatinya bukanlah sebuah beban atau tanggung jawab yang harus dilaksankan.

Ibadah adalah kebutuhan seorang hamba untuk senantiasa mendekatkan dirinya kepada sang pencipta. Ketika seseorang merasa tidak membutuhkan kedekatan itu, ia terlena dan enggan melaksanakan ibadah.

Namun, seseorang yang sadar akan kebutuhan kedekatan dan kuasa-Nya, dengan sendirinya melaksanakan ibadah itu tanda rasa terbebani atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang hamba.

Butuh dan tidaknya seseorang dalam melaksanakan ritual ibadah wajib semuanya berlangsung dalam ranah olah pikir seseorang. Kemampuan akal untuk berpikir itulah yang menjadi syarat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Akal juga menjadi anugerah paling istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Akal inilah yang menjadi faktor pembeda paling kentara antara manusia dengan binatang atau makhluk lainnya.

Seseorang yang keji kepada makhluk lainnya sering kali kelakuanya tersebut diasumsikan mirip dengan kelakuan binatang. Kemampuan seseorang dalam memfungsikan akalnya, termasuk dalam hal melaksanakan ibadah wajib, kadangkala terkotori oleh nafsu dan bujukan dari luar dirinya.

Ini mengakibatkan kemurnian ibadah yang seharusnya dikerjakan seseorang menjadi kabur. Ibadah yang sedang dikerjakannya bukan lagi menjadi suatu kebutuhan. Motif lillahita’ala yang seharusnya menjadi landasan utama seseorang dalam beribadah menjadi hilang.

Tuhan sebagai muara ibadah seseorang lenyap dan tergantikan oleh bujukan dan rayuan dari luar tersebut. Contoh paling jelas hilangnya Tuhan dalam ibadah salat yang baru-baru ini terjadi dari dapat kita temui dalam ritual salat berjemaah berhadiah yang diselenggarakan Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan.

 

Citra Religius

Dengan dalih untuk meramaikan masjid, sang wali kota menyediakan hadiah berupa fasilitas berangkat haji, umrah, dan mobil Toyota Innova. Semua biaya penyediaan hadiah-hadiah itu diakuinya dari uang pribadinya. Hadiah tersebut akan diberikan kepada warga yang rajin salat Zuhur berjemaah di masjid.

Dengan menunjukan kartu tanda penduduk (KTP) saat mendaftar menjadi peserta undian salat berhadiah, peserta akan mendapatkan pin yang akan dikumpulkan oleh panitia dalam database. Apabila dalam 40 kali salat Zuhur seorang peserta selalu mengikuti salat berjemaah dan tidak ketinggalan takbiratul ula di Masjid At-Taqwa yang merupakan masjid di pusat Kota Bengkulu tersebut, peserta tersebut berkesempatan mendapatkan hadiah umrah.

Apabila seorang peserta berhasil melaksanakan salat Zuhur berjemaah selama 52 kali berturut-turut dengan syarat dan ketentuan yang sama, peserta itu berkesempatan mendapatkan fasilitas melaksanakan ibadah haji gratis.

Dan, yang paling rajin di antara seluruh peserta ”lomba” salat berjemaah berkesempatan untuk mendapatkan mobil Toyota Innova V-Series dan Toyota Avanza. Namun, apabila seorang peserta lomba absen satu kali saja tidak melaksanakan salat berjemaah, perhitungannya akan dimulai dari awal lagi.

Demikianlah, ”lomba” salat berjemaah yang fenomenal itu telah dilaksanakan mulai Rabu (12/2) di Kota Bengkulu. Secara pribadi, dengan bekal pengetahuan agama saya yang sangat minim, saya berharap semoga kota-kota dan daerah lain tidak meniru kebijakan ganjil yang dilakukan Helmi Hasan ini.

”Hilangnya” Tuhan dalam laku ibadah salat tentu hal yang paling menyedihkan, apalagi ini dilakukan secara berjemaah. Tuhan di Masjid At-Taqwa Kota Bengkulu hanyalah sebatas lafal yang terpampang di dalam kaligrafi masjid. Selebihnya kosong!

Seluruh peserta ”lomba” tentu lebih antusias melaksanakan salat berjemaah hanya karena iming-iming hadiah umrah, haji, dan mobil baru. Ini tentu mirip dengan anak kecil yang malas untuk berangkat sekolah kemudian diiming-imingi sepeda baru dan akhirnya mau berangkat ke sekolah.

Si anak berangkat ke sekolah bukan karena ia sangat butuh untuk mendapatkan ilmu, tapi karena apabila ia rajin ke sekolah maka sepeda baru akan didapatkannya. Demikian pula para peserta lomba salat berjemaah tersebut.

Mereka datang ke Masjid At-Taqwa bukanlah karena kebutuhan akan ketenangan batin yang dijanjikan Tuhan bagi hambanya yang rajin beribadah lillahita’ala. Motivasi mendapatkan ketenangan batin mereka kemudian menjadi termaterialkan dalam wujud tiket umrah, haji, dan mobil baru.

Inilah ketenangan batin yang salah kaprah yang kadang juga kita lakukan secara personal ketika melakukan ibadah. Kita patut mengelus dada melihat apa yang dilakukan oleh seorang wali kota ini. Sebenarnya Helmi Hasan tak perlu mengeluarkan ratusan juta rupiah hanya untuk mencari citra religius untuk dirinya dan kota yang dipimpinnya.

Ia tak perlu bersusah payah melakukan hal yang sia-sia, yang hanya akan mengakibatkan degradasi religius, dengan memengaruhi laku ibadah dengan benda-benda duniawi. Cukuplah Helmi Hasan mencontoh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sederhana itu.

Bekerjalah sebagai wali kota dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Tuhan akan membantu mengurusi keluarga dan warga yang kamu pimpin.

 

lowongan pekerjaan
PT ANDALAN FINANCE INDONESIA (Nasmoco Group), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….