Perajin batik Sri Kuncoro di sentra industri batik di Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri tengah merampungkan pesanan, Rabu (26/2/2014). (JIBI/Harian Jogja/Endro Guntoro)
Kamis, 27 Februari 2014 14:33 WIB Endro Guntoro/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Jakarta Banjir, Perajin Batik Tulis Bantul Terkena Imbasnya

Solopos.com, BANTUL-Banjir yang melanda Jakarta membuat sentra industri batik tulis di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri lesu karena pasar terbesar mereka ke ibukota negara itu. Belum usai soal banjir, giliran Jogja dilanda hujan abu vulkanik dari Gunung Kelud.

Kelesuan pasar batik tulis di Jakarta membuat sejumlah perajin di kawasan sentra perajin batik di Desa Wukirsari terpaksa menurunkan tingkat produksi batik tulis. Para pengusaha dan perajin tak berani spekulasi dengan mempertahankan tingkat produksi seperti pada hari biasa.

Perajin Batik Srikuncoro di Desa Wukirsari misalnya, mulai mengurangi tingkat produksi batik tulis sejak banjir mengenangi Jakarta yang selama ini menjadi pasar penjualan terbaik.

“Tingkat penurunan pesanan batik cukup lumayan dirasakan mencapai 75 persen turunya,” kata Sudarto Ali pemilik Batik Srikuncoro saat ditemui Harianjogja.com, Rabu (26/2/2014).

Sejak banjir menggenangi Ibu Kota Jakarta, pesanan dan permintaan batik di Wukirsari merosot tajam. Pesanan yang datang satu atau dua saja dan membawa pengaruh perajin dalam berproduksi.

“Logis pasar batik di Jakarta juga kena dampak langsung dan akhirnya lumpuh,” imbuh pemilik Batik Srikuncoro yang berdiri setelah gempa bumi Bantul Mei 2006 silam.

Diakui Sudarto banyak order yang masuk akhirnya dibatalkan dan diprediksi hanya akan normal lagi setelah cuaca Jakarta mendukung. “Erupsi Kelud juga membawa dampak kelesuan ini, tapi sedikit,” ucapnya.

Perajin batik tulis yang lain mengaku hanya bisa menunggu cuaca kembali baik. Terlebih seringnya hujan juga mengguyur Bantul cukup pengaruh laju produksi dalam batik tulis yang mengandalkan panas matahari pada tahap pewarnaan dan pengeringan.

“Kalau hujan seperti ini hanya bisa merampungkan satu atau dua saja. Itupun susah. Kami menunggu bencana banjir Jakarta selesai,” ujar Imaroh satu dari seribu jumlah perajin batik tulis lain di Wukirsari.

Namun demikian anjoknya omzet perajin di sentra batik Desa Wukirsari tak mempengaruhi ramainya ratusan gerai dan tempat produksi. Setiap hari rombongan wisatawan datang untuk sekadar menyaksikan produksi hingga belajar langsung keterampilan membatik turun temurun dari nenek moyang.

Dalam sepekan ini, paling tidak ada 180 pengunjung dari Jogja dan 350 pengunjung dari Bandung yang datang untuk belajar dasar batik tulis. Rombongan SMK Negeri 5 Jogja juga tengah menerjunkan siswanya untuk praktik langsung.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…