Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S. Pane (Dok/JIBI) Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane (Dok/JIBI)
Kamis, 27 Februari 2014 06:45 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Solo Share :

Aksi Anarkistis di Solo Diduga Dimotori Aktor Intelektual

Solopos.com, SOLO—Aksi anarkistis di sejumlah lokasi di Solo diduga dimotori oleh aktor intelektual yang sengaja ingin membuat kekacauan. Hal itu dinilai dapat menjadi ancaman bagi kelancaran Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presidan dan Wakil Presiden 2014.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, saat dihubungi Solopos.com, Rabu (26/2/2014), mengemukakan masih terjadinya aksi anarkistis di Solo oleh kelompok tertentu dan terus berulang, menandakan polisi tidak dapat mengatasi masalah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Tercatat, selain aksi anarkistis di Zensho Karaoke Family, Minggu (23/2) malam lalu, kejadian serupa terjadi di sebuah acara politik di Kemlayan, Serengan, dua pekan sebelumnya, dan di kedai jamu di Laweyan, Solo, November 2013.

Menurut Neta, ada kemungkinan kelompok penyerang dimanfaatkan oleh pihak yang sengaja ingin membuat onar menjelang Pemilu. Peristiwa-peristiwa itu dikatakan dia tak boleh dibiarkan.

Para pelaku sekaligus aktor intelektual di balik mereka harus segera ditangkap. Jika tidak, bukan tidak mungkin aksi demi aksi bisa kembali terjadi, bahkan bisa lebih besar. Hal tersebut dikatakan Neta dapat mengancam keberlangsungan Pemilu mendatang.

“Adanya kejadian itu makin memperburuk citra polisi. Untuk memulihkan kepercayaan masyarakat satu-satunya jalan hanya dengan mengungkap kasus itu. Kalau polisi belum dapat mengungkap dan aksi lain terjadi lagi, berarti polisi enggak mampu. Ini bahaya bagi Pemilu,” ungkap Neta.

Hal tersebut sangat beralasan, lanjut dia, karena Solo merupakan barometer politik nasional. Sejarah kerusuhan secara besar-besaran di Indonesia, 1998, menjadi bukti.

Kerusuhan kala itu disebut dia bermula dari rusuh di Solo. Kerusuhan semakin berkembang hingga ke daerah lain. Puncaknya, terjadi lah peristiwa Trisaksi di Jakarta.

“Solo sangat rentan isu SARA [Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan]. Bayangkan saja, jika pihak yang diserang mengumpulkan preman dan membalas dendam. Kerusuhan bisa berkembang. Ini tidak boleh dibiarkan,” imbuh Neta.

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…