Pasoepati Tampilkan Formasi Angka 14 Ilustrasi koreografi Pasoepati (JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha)
Rabu, 26 Februari 2014 03:45 WIB Tri Indriawati/JIBI/Solopos Indonesia Share :

PERSIS SOLO VS UNSA-ASMI
Laskar Sambernyawa Nyaris Ditahan Imbang, Koordinasi Jadi Kendala

Solopos.com, SOLO–Lemahnya koordinasi antar lini skuat Persis Solo masih menjadi kendala utama yang membayangi setiap laga uji coba yang digelar Laskar Sambernyawa.

Persoalan koordinasi bahkan membuat tim polesan Widyantoro itu nyaris ditahan imbang Unsa-Asmi, di Stadion Sriwedari Solo Selasa (25/2/2014) sore. Persis tak berhasil mencetak satu pun gol hingga susunan pemain dirombak pada 20 menit terakhir babak kedua.

Berkali-kali, peluang emas yang dimiliki Persis untuk membobol gawang lawan lenyap begitu saja. Lini depan, tengah, belakang juga kerap kehilangan bola lantaran salah memberi umpan.

Gol semata wayang milik Laskar Sambernyawa baru tercipta saat tendangan spekulasi Yanuar Ruspuspito dari luar kotak penalti bersarang di gawang Unsa-Asmi pada menit ke 78. “Saya juga heran, Yanuar selalu kehilangan peluang saat mendapatkan bola-bola mudah. Giliran mendapat bola sulit malah bisa bikin gol,” ulas Wiwid, sapaan akrab Widyantoro, saat dijumpai wartawan seusai laga uji coba kontra Unsa-Asmi.

Lenyapnya peluang Persis mencetak poin bukan kali ini saja terjadi. Di laga tanding sebelumnya, sejumlah striker maupun gelandang Laskar Sambernyawa sering tak berhasil mengakhiri serangan dengan manis.

Pemain yang berhasil menggiring bola tepat di muka gawang lawan kerap terlihat kebingungan. “Memang finishing selalu menjadi masalah, semestinya pemain bisa memutuskan langsung menembak saat ada peluang,” imbuh pelatih muda asal Magelang itu.

Lebih lanjut, Wiwid mengakui lemahnya koordinasi antar lini menjadi penyebab lenyapnya peluang gol maupun kebobolannya gawang Persis. Ferry Anto dkk. kerap kecolongan gol karena tidak mampu berkoordinasi dengan baik untuk menangkis bola-bola set piece.

“Koordinasi bola set piece masih lemah, koordinasi antar lini masih sangat perlu perbaikan. Ini menjadi bahan evaluasi saya,” ungkap Wiwid.

Selain belum menemukan sosok pemimpin, Laskar Sambernyawa juga belum memiliki gelandang serang yang mampu membagi bola dengan baik. Sosok Mbom Jullien yang dipasang di lini tengah ternyata belum banyak membawa kemajuan pola serangan.

“Mbom sedang saya pelajari. Kalau ditempatkan sebagai play maker, Mbom terlalu turun sebagai pembagi bola,” kata mantan Pelatih Persis versi Liga Premier Indonesia Sportindo (LPIS) itu.

Sejauh ini, Persis hanya memiliki dua play maker yang bisa diandalkan, yakni M. Wahyu dan Windu Wibowo. Namun, keduanya juga belum mampu menampilkan koordinasi sempurna sepanjang laga uji coba yang pernah digelar. “Saya selalu tekan kan kepada anak-anak, play maker harus bisa membagi bola ke depan dan ke belakang dengan persentase 70%-30% atau sebaliknya, tapi memang belum bisa berjalan sepenuhnya,” jelas Wiwid.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…