Seorang pengunjung Kuil Karni Mata berdoa di hadapan tikus (Dailymail.co.uk) Seorang pengunjung Kuil Karni Mata berdoa di hadapan tikus (Dailymail.co.uk)
Rabu, 26 Februari 2014 05:45 WIB Septina Arifiani/JIBI/Solopos Internasional Share :

KISAH UNIK
Di Karni Mata Tikus Dipelihara dan Disembah

Solopos.com, SOLO – Sebagian besar orang menganggap tikus sebagai hama. Karena diyakini sebagai penyebab berbagai macam penyakit, berbagai cara dilakukan untuk memberantasnya, mulai dari memasang perangkap hingga membubuhkan racun. Namun, di Rajashtan, India yang terjadi justru sebaliknya, warga merawat dan menyembah binatang pengerat itu.

Dilansir Daily Mail, Senin (24/2/2014), kuil bernama Karni Mata itu dihuni oleh lebih dari 20.000 tikus yang dilindungi, diberi makan dan disembah oleh masyarakat sekitar. Mereka bahkan membangun sebuah jaring besar untuk melindungi tikus-tikus tersebut dari bahaya predator yang mengacam kelangsungan hidup mereka.

Selah seorang pengunjung Kui Karni Mata Surender Sharma mengatakan walaupun orang biasa menganggap tikus adalah hewan yang merugikan, namun hingga kini belum ada keluhan dari masyarakat sekitar kuil mengenai hal itu. Walaupun hidup mereka dekat dengan tikus, namun tidak pernah terjadi wabah penyakit tertentu yang disebabkan oleh tikus-tikus tersebut.

“Tidak ada riwayat wabah di daerah ini, meskipun tikus-tikus ini telah menghuni selama bertahun-tahun. Orang-orang datang ke sini untuk menyembah tikus sebagai dewa,” ujar Surender.

Seorang anak memperhatikan tikus-tikus yang tengah minum susu di Kuil Karni Mata (Dailymail.co.uk)

Seorang anak memperhatikan tikus-tikus yang tengah minum susu di Kuil Karni Mata (Dailymail.co.uk)

Warga yang datang ke kuil itu bahkan secara khusus memberi makan tikus-tikus tersebut. Terlihat beberapa mangkuk susu dan biji-bijian yang disajikan dari masyarakat sebagai makanan dan minuman bagi tikus-tikus tersebut. Pemandangan lainnya adalah anak-anak yang terlihat bermain di daerah kuil tersebut tanpa rasa takut terkena bahaya penyakit.

Beberapa pengunjung sering kali memberikan permen yang mereka miliki untuk dimakan tikus-tikus tersebut. Sisa makanan yang tidak habis juga dianggap membawa berkah sehingga mereka tanpa ragu memakan makanan sisa tikus tersebut.

Pendeta di kuil tersebut mengimbau pengunjung berhati-hati ketika berada di dalam lokasi candi agar tak menginjak tikus tersebut. Menurut aturan kuil, menginjak secara sengaja tikus tersebut hingga mati adalah dosa. Pelaku harus membeli patung tikus emas atau perak dan menempatkannya di dalam kuil sebagai penebusan dosa.

 

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…