Ilustrasi HIV/AIDS Ilustrasi HIV/AIDS (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Rabu, 26 Februari 2014 05:15 WIB Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Solo Share :

KASUS HIV/AIDS
ODHA Soloraya Tembus 1.212 Jiwa

Solopos.com, SOLO—Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Solo mencatat kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Soloraya menembus 1.212 jiwa. Dari jumlah tersebut, 376 di antaranya meninggal dunia. Temuan ini merujuk pendataan KPA Solo medio Oktober 2005 hingga Januari 2014.

Pengelola Program KPA Solo, Tommy Prawoto, saat ditemui wartawan seusai peresmian Sekretariat KPA di Alun-alun Utara No.10 Pasar Kliwon, Selasa (25/2/2014), mengatakan belum ada penurunan kasus ODHA yang signifikan beberapa bulan belakangan. Bahkan dari pengamatannya, grafik ODHA di Soloraya terus meningkat setiap bulan.

Tommy mencatat pada Januari KPA menemukan 28 kasus ODHA baru. Dari kasus tersebut, lima di antaranya meninggal dunia. “Padahal di bulan-bulan sebelumnya penambahan hanya sekitar 20-22 kasus. Temuan di Januari tergolong tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan heteroseksual oleh lelaki berisiko tinggi (LBT) masih menjadi penyumbang utama kasus ODHA di Januari. Secara kumulatif, ODHA dari kelompok LBT masih menjadi yang tertinggi dengan 559 kasus. Tommy menyebut penambahan kasus di Januari juga ada yang berasal dari kalangan waria. “Penularannya melalui sodomi,” tuturnya.

Menyikapi fenomena ini, pihaknya berkomitmen menggencarkan sosialisasi HIV/AIDS lewat warga peduli AIDS (WPA) yang telah terbentuk di setiap kelurahan. Di samping itu, KPA rutin memberikan bantuan kondom kepada warga berisiko tinggi melalui populasi kunci. Januari kemarin, pihaknya memenuhi sebanyak 9.000 permintaan kondom.

“Hingga semester awal ini kami siapkan 40.000 buah kondom. Jumlahnya bisa saja ditambah tergantung permintaan.”

Petugas pengendali HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Solo, Wahyu Indianto, menambahkan kalangan pekerja produktif menjadi penderita HIV/AIDS terbanyak dari segi umur. Wahyu membeberkan dari seribuan kasus ODHA di Soloraya, 893 di antaranya menyerang warga berusia 25-49 tahun.

“Pengamatan terakhir ada indikasi tren HIV/AIDS bergerak ke usia 17-25 tahun. Ini harus diwaspadai,” tuturnya.

Wahyu mendorong warga turut proaktif dalam penyebaran info soal HIV/AIDS. Menurutnya, sosialisasi terarah penting untuk mencegah timbulnya ODHA baru. “Juga memupus diskriminasi bagi penyandang HIV/AIDS.”

Sementara itu,Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, berkomitmen mendukung program HIV/AIDS lewat kucuran dana. Wali Kota mengaku siap menggelontor dana hingga setengah miliar untuk penanganan HIV/AIDS pada 2015. “Juni 2015 kan bantuan lembaga donor sudah berhenti. Pemkot sudah siap untuk itu,” pungkasnya.

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…