Ketua Persatuan Kebudayaan Bangsa-bangsa Dunia (PKBBD), Sri Notokusumo (dua dari kanan) menggelar deklarasi pendirian organisasi tersebut di Ndoho Wetan, RT 002/RW 004, Lawu, Nguter, Rabu (26/2/2014). (JIBI/Solopos/Ivan Andimuhtarom) Ketua Persatuan Kebudayaan Bangsa-bangsa Dunia (PKBBD), Sri Notokusumo (dua dari kanan) menggelar deklarasi pendirian organisasi tersebut di Ndoho Wetan, RT 002/RW 004, Lawu, Nguter, Rabu (26/2/2014). (JIBI/Solopos/Ivan Andimuhtarom)
Rabu, 26 Februari 2014 20:40 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

Istana Sukoharjo Surakarta Hadiningrat, Sang Prabu Sebut Bergerak di Bidang Koperasi

Solopos.com, SUKOHARJO— Persatuan Kebudayaan Bangsa-Bangsa Dunia (PKBBD) dideklarasikan, Rabu (26/2/2014), di Ndoho Wetan, RT 002/RW 004, Lawu, Nguter, Sukoharjo. Sekretariat PKBBD itu diklaim sebagai Istana Sukoharjo Surakarta Hadingrat Negara Serikat Rakyat Republik Indonesia.

Ketua PKBBD mengaku bernama Sang Prabu Sri Notokusumo. Menurut Sang Prabu, organisasi tersebut bergerak di bidang koperasi.

Ketua PKBBD, Sri Notokusumo, saat ditemui wartawan, Rabu, mengatakan organisasi tersebut mulai berdiri sejak 1678. Menurutnya, pendiri PKBBD adalah Pakubuwono III. “Visi misi kami adalah menyatukan masyarakat demi bangsa dan negara,” ujarnya.
Ia tidak mengakui dirinya sebagai keturunan keraton meski pun mengaku memiliki gelar Paku Buwono (PB) X ke-2.

Menurutnya, semua anggota PKBBD berhak memiliki gelar seperti gelar yang dimiliki keturunan darah biru. “Semua orang boleh memakai gelar seperti itu [Pakubuwono X ke-2]. Tidak ada yang melarang. Asal masuk PKBBD. Kalau mau masuk PKBBD harus membuat kartu tanda anggota (KTA),” terangnya.

Ia menambahkan, organisasinya mencukupi diri dengan jerih payah anggota. Menurutnya, PKBBD bergerak di bidang koperasi. “Anggotanya sekitar 20-an orang,” jelasnya.

Salah satu anggota PKBBD yang enggan disebutkan namanya, ketika menghubungi Solopos.com, Rabu siang, mengatakan sang ketua yang bernama asli Kardi biasanya mengaku sebagai Pakubuwono X ke-2 kepada calon pengikutnya.

Sang ketua juga pernah mengatakan memiliki akses untuk membuka harta Bung Karno di luar negeri. “Tetapi sekarang saya meragukan hal tersebut. Saya juga menunggu kebenaran klaim tersebut,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…