Ilustrasi panen padi (JIBI/Solopos/Dok) Ilustrasi panen padi (JIBI/Solopos/Dok)
Rabu, 26 Februari 2014 16:18 WIB Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

BANJIR KLATEN
Terendam Air, Tanaman Padi di Klaten Panen Dini

Solopos.com, KLATEN--Ribuan meter persegi tanaman padi di Kecamatan Bayat dan Wedi terpaksa dipanen lebih dini. Petani tidak memiliki pilihan lain selain memanen tanaman lebih awal karena takut padi yang mereka tanam gagal panen karena terlalu lama terendam air.

Pantauan solopos.com di Desa Jiwo Wetan, Wedi, Rabu (25/2/2014), sejumlah petani memanen tanaman padi yang masih terendam air. Usai dipotong dari batangnya, tanaman padi jenis IR 64 itu bahkan harus dijemur terlebih dahulu di jalanan.

Hal itu dilakukan karena tanaman padi tersebut basah kuyup akibat terendam air sejak Sabtu (22/2/2014). Saking basahnya, petani sampai menunggu berjam-jam hingga padi benar-benar kering. Salah satu petani dari Sekarbolo, Jiwo Wetan, Sukarni, mengatakan ada sekitar 1.000 meter persegi tanaman padi yang dia garap yang terendam air. Akibatnya, tanaman padi yang dia garap bahkan banyak yang roboh.

Padi juga sudah mulai tampak tidak segar. Padahal, hingga Rabu kemarin tanaman padi yang dia garap usianya sudah sekitar 90 hari.

Pihaknya mengaku terpaksa memanen lebih awal karena takut padi membusuk akibat terlalu lama terendam air. “Jika tidak segera dipanen, bulir padi akan mudah rontok, sehingga kami bisa rugi,” jelasnya kepada wartawan di lokasi, Rabu.
Selain itu, tanaman yang terendam air juga menyebabkan bulir padi mudah pecah saat diselep. Kondisi tersebut membuat harga jual beras menurun drastis karena kualitasnya buruk.

Sementara, kondisi serupa juga terjadi di Desa Wiro, Kecamatan Bayat. Salah satu petani, Tuliran, 65, terpaksa memanen lebih awal tanaman padi yang berusia 90 hari. Pihaknya mengaku takut tanaman padi seluas 3.300 meter persegi yang dia garap membusuk karena terendam air.

Kondisi tersebut menyebabkan tanaman padi lama-kelamaan akan mati. “Takut kalau tanaman padi tambah membusuk, sehingga harus segera dipanen. Apalagi saat ini hujan deras masih mengguyur Klaten, bisa bahaya kalau terendam lagi,” ujarnya kepada wartawan di lokasi, Senin (24/2/2014).

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…