Sejumlah penumpang menjajal Batik Solo Trans (BST) koridor dua dengan trayek Palur-Kartasura via Stasiun Balapan Selasa (25/2/2014). 16 Unit BST tersebut menyinggahi 40 halte. (Mariyana Ricky PD/JIBI/Solopos)
Selasa, 25 Februari 2014 16:37 WIB Maryana Ricky/JIBI/Solopos Solo Share :

MODA TRANSPORTASI SOLO
BST Koridor Dua Lebih Mahal Tapi Lebih Nyaman

Solopos.com, SOLO—Hawa dingin terasa saat kali pertama menginjakkan kaki di Batik Solo Trans (BST) koridor dua, Selasa (25/2/2014). “Silahkan, kakak,” sapa pramugari BST, Rani Soraya, 22. Di dalam bus berwarna biru itu sudah ada belasan penumpang duduk di bangku yang tersedia.

“Mulai pagi tadi sudah ramai sekali. Tidak pernah sepi. Padahal hari ini [Selasa] baru mulai beroperasi,” jelas Rani yang berseragam kuning hijau itu. Dari radio BST samar-samar terdengar lagu pop Indonesia. “Ini nanti sampai 12 rit kami bolak-balik Palur-Kartasura, baru kemudian bisnya ngandang,” lanjut dia. Rani menceritakan mulai pukul 06.30 WIB, mayoritas penumpang yang menjajal BST adalah para pelajar dari daerah Kartasura.

Karena kali pertama beroperasi, Rani banyak menjawab pertanyaan dari para penumpang. “Mereka banyak bertanya halte-halte mana yang dilalui BST koridor dua,” urainya. Salah satu penumpang asal Pabelan, Kartasura, Hadi Prayitno, 50, bertanya kepada Rani mengenai halte terdekat dari rumahnya.

“Saya biasanya naik Atmo [bus kota], tapi karena ada BST saya akhirnya nyoba naik,” jelas dia. Hadi mengatakan aktivitas sehari-harinya adalah menjemput cucu yang bersekolah di TK Al Firdaus kawasan Kota Barat. “Memang lebih nyaman, karena bus baru dan Full AC,” ujar dia. Meskipun begitu, kata Hadi, jarak antara BST satu dengan BST lain terasa lebih lama.

“Kalau naik Atmo itu armadanya lebih rapat, satu berangkat, tidak berapa lama yang satunya sudah datang lagi. Tapi ya, lebih nyaman naik BST meski tidak bisa sembarangan menaik-turunkan penumpang,” pungkas Hadi.

Pendapat yang sama disampaikan Dean Wanudya, siswa SMAN 2 Solo yang mengaku lebih nyaman berkendara dengan BST. “Yang jelas naik BST itu tidak ada asap rokok. Biayanya kalo Atmo bayar Rp1.500. Tapi kalau BST, pelajar kena Rp 2.000,” kata Dean. Meski mahal, Dean yang beralamat di Kerten itu lebih memilih BST. “Nanti sepertinya saya akan terus naik BST.”

Sementara, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo, Indarjo mendapat laporan dari stafnya mengenai antusias masyarakat yang tinggi menyambut operasional BST koridor dua. “Karena hari ini baru uji coba, kami menemukan antara satu bus dengan yang lainnya itu cukup rapat, tapi ada juga yang berjauhan, ini akan menjadi bahan evaluasi kami,” jelas Indarjo.

Indarjo mengklaim sebelum beroperasi, 16 BST itu sudah dicek kelengkapan operasional mesinnya. “Seluruh mesin dalam kondisi baik, karena bus ini baru diproduksi, jadi pengecekannya lebih teliti.” Meskipun demikian, berdasarkan pantauan solopos.com, salah satu pintu BST koridor dua, macet saat dibuka. “Sepertinya kurang minyak,” kata salah seorang sopir BST itu.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…