Asap putih tebal yang keluar gunung Kelud terlihat dari 6 kilometer di Pos Pengamatan Gunung Api Kelud di Dusun Margomulyo, Sugihwaras, Ngancar, Kediri, Jatim, Sabtu (15/2/2014). Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), M Hendrasto pascadua hari meletusnya Gunung Kelud masih tetap berstatus awas. (JIBI/Solopos/Antara/M Risyal Hidayat) Asap putih tebal yang keluar gunung Kelud terlihat dari 6 kilometer di Pos Pengamatan Gunung Api Kelud di Dusun Margomulyo, Sugihwaras, Ngancar, Kediri, Jatim, Sabtu (15/2/2014). Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), M Hendrasto pascadua hari meletusnya Gunung Kelud masih tetap berstatus awas. (JIBI/Solopos/Antara/M Risyal Hidayat)
Selasa, 25 Februari 2014 04:32 WIB Choriul Anam/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

GUNUNG KELUD MELETUS
Pemulihan Pertanian Malang Butuh Rp121,8 Miliar

Solopos.com, MALANG—Biaya pemulihan sektor pertanian dan perkebunan di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang terdampak erupsi Gunung Kelud mencapai Rp121,8 miliar.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Malang Tomie Herawanto mengatakan dana recovery sektor pertanian dan perkebunan sebesar itu diperuntukkan untuk membantu petani berupa sarana produksi seperti benih, pupuk, obat-obatan, dan biaya pengelolaan.

“Wilayah pertanian dan perkebunan yang terdampak erupsi Gunung Kelud mencapai 7.044 hektare,” kata Tomie di Malang, Senin (24/2/2014).

Biaya sebesar itu, nanti ditanggung Pemkab Malang, Pemprov Jatim, dan pemerintah pusat.

Nilai bantuan sebesar itu, kata dia, diasumsikan jika dari 7.044 hektare di wilayah Kec. Pujon, Kasewmbon, dan Ngantang, semuanya gagal panen.

Namun di lapangan, bisa saja kerusakannya tidak meluas, bergantung ada atau tidaknya hujan.

Jika tidak hujan, maka areal persawahan dan perkebunan seluas 7.044 hektare itu hampoir dikatakan rusak semuanya, diatas 80%. Namun jika ada hujan, maka tingkat kerusakan bisa hanya 60%.

Karena kerusakan riil sektor pertanian dan perkebunan, harus dilihat di lapangan setelah berlangsungnya hujan.

“Meski hujan, tetap saja produksi pertanian rusak, tidak bisa sama jika tidak ada erupsi Gunung Kelud,” ujarnya.

Dampak erupsi Gunung Kelud pada sektor pertanian, masih sebatas pada gagalnya panen, tidak merusakkan sarana irigasi.

Karena itulah, recovery di sektor pertanian terutama pada bagiamana petani bisa kembali berproduksi.

Kapan realisasi bantuan untuk pemulihan sektor pertanian dan perkebunan direalisasikan, akan menunggu sinyal dari Pemprov Jatim.

Pertimbangannya, kata Tomie, karena permasalahan dampak dari bencana alam erupsi Gukung Kelud ditangani Pemprov Jatim.

Dia masih belum tahu berapa komposisi dari dari kewajiban masing-masing untuk memulihkan sektor pertanian.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Cabang Malang Arief Kurniawan mengatakan  korban erupsi Gunung Kelud belum mengajukan klaim ke perusahaan asuransi umum.

Sampai saat ini belum ada pengajuan klaim dari nasabah ke perusahaan asuransi.

“Karena itulah, kami belum tahu total nilai klaim bencana erupsi Kelud di wilayah Kediri, Kabupaten dan Kota Malang,” katanya.

Produk-produk yang dibeli masyarakat terdampak erupsi Kelud, yakni bangunan pabrik, tempat tinggal, tempat usaha, sapi untuk kebakaran, dan kendaraan bermotor.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.NSC FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…