Ilustrasi kekerasan (JIBI/Harian Jogja/Dok.) Ilustrasi kekerasan (JIBI/Harian Jogja/Dok.)
Selasa, 25 Februari 2014 22:41 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Dimarahi Guru, Siswa Berhenti Sekolah

Solopos.com, BANTUL—Siswa yang mengalami trauma karena kekerasan yang dilakukan guru tak hanya satu kasus. Kini ada lagi siswa yang telah lama berhenti sekolah karena trauma setelah mengalami kekerasan psikologis dari guru.

Sebelumnya satu siswa berinisial LY, trauma setelah dilempar penghapus oleh guru mata pelajaran Agama, bernama Budi Gunawan. Siswa kelas III SD Kanggotan, Wonokormo, Pleret, Bantul ini tidak masuk sekolah hampir dua pekan setelah dilempar guru agamanya dengan penghapus papan tulis.

Kasus yang baru saja ditemukan Harian Jogja, menimpa LRM, 10. Siswa kelas IV ini telah berhenti sekolah sejak Agustus 2013 lalu. Nurofiq, 45, orangtua LRM menuturkan anaknya diduga menjadi korban kemarahan guru SD berinisial H yang tidak lain adalah wali kelasnya.

LRM memang tidak mengalami kekerasan fisik seperti dilempar dengan penghapus. Dia diduga mengalami kekerasan psikologis karena dimarahi oleh guru H. Sayangnya kata Nurofiq, anaknya itu sangat tertutup. Ia tidak pernah menceritakan apa yang menyebabkan dirinya tidak mau sekolah.

Kecurigaan bahwa LRM mengalami kekerasan psikologis dari gurunya setelah mendengar cerita dari rekan-rekan LRM dan anak tetangganya yang juga trauma tidak masuk sekolah karena dimarahi oleh guru H. Menurut teman-teman anaknya, guru H terkenal garang.
Kasus anak tetangganya juga trauma karena dimarahi oleh guru H. “Anak tetangga saya itu sampai enggak masuk selama sepuluh hari, gara-gara trauma,” ungkap Nurofiq, Selasa (25/2/2014).

Lantaran tidak mau masuk sekolah berbulan-bulan, Kepala SD Kanggotan dan Guru H akhirnya menyambangi rumah Nurofiq. Mereka membujuk agar LRM kembali sekolah. Kepala Sekolah bahkan menawarkan akan memindahkan guru H menjadi wali kelas III agar anaknya mau sekolah.

Namun LRM tetap tidak bisa dibujuk, ia bahkan tidak berani bertemu guru H tersebut saat mereka bertamu. Nurofiq berinisiatif mencarikan sekolah baru untuk LRM, namun yang bersangkutan tetap tidak mau sekolah.

“Mau tidak mau mulai ajaran baru nanti baru saya sekolahkan lagi, sepertinya sudah mau dia untuk masuk. Sekarang anaknya hanya di rumah saja, kan ketinggalan pelajaran,” tuturnya.

Harus Dipanggil
Ihwal, trauma yang dialami sejumlah murid SD Kanggotan, Kepala SD setempat Sutini belum mau diwawancari saat media ini mencoba mengonfirmasi. Sutini mengaku tengah sibuk rapat. “Saya lagi sibuk rapat sekarang,” katanya.

Sementara itu Jupriyanto, Sekretaris Komisi D DPRD Bantul yang membidangi masalah pendidikan menyatakan, akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Dasar Bantul mengenai dugaan tindak kekerasan yang dialami sejumlah siswa SD Kanggotan.

“Guru yang bersangkutan harus dipanggil, kalau bisa dibina ya dibina untuk tidak mengulangi kalau tetap tidak bisa dibina ya dikantorkan [dipindah ke bagian pelayanan pendidikan bukan sebagai guru],” terangnya.

lowongan pekerjaan
PT. Merak Jaya Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu terakhir ini beredar…