KRISIS UKRAINA
Inilah Alasan Mengapa Presiden Ukraina Mau Berdamai

Bentrokan antara polisi dan para demonstran terjadi di Independence Square, Kiev, Ukraina Rabu (19/2/2014) dini hari. Presiden Viktor Yanukovich terguling dan para kroninya kabur ke luar negeri. (JIBI/Solopos/Reuters)Bentrokan antara polisi dan para demonstran terjadi di Independence Square, Kiev, Ukraina Rabu (19/2/2014) dini hari. Presiden Viktor Yanukovich terguling dan para kroninya kabur ke luar negeri. (JIBI/Solopos/Reuters)

Solopos.com, KIEV — Presiden Ukraina,Viktor Yanukovich, Kamis (19/2/2014) menyatakan setuju berdamai dengan pemimpin oposisi. Hal itu menyusul tewasnya 26 orang dalam kerusuhan di jalan-jalan Ibu Kota Kiev dan menjelang pertemuan menteri-menteri luar negeri Uni Eropa yang mengancam bakal menjatuhkan sanksi.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs kepresidenan setempat, Yanukovich setuju memulai negosiasi. “Mengumumkan persetujuan untuk dimulainya negosiasi yang bertujuan mengakhiri pertumpahan darah dan menstabilkan negara dengan niat menciptakan perdamaian,” tulis pernyataan tersebut seperti dilansir Reuters, Kamis (20/2/2014).

Tensi politik di Ukraina meninggi setelah demonstran dan polisi kembali bentrok pada Rabu (19/2/2014) pagi di Kiev. Sementara itu, menteri luar negeri Prancis, Jerman, dan Polandia hendak bertemu Yanukovich sebelum pertemuan 28 menteri luar negeri Uni Eropa. Salah satu agenda pertemuan itu adalah membahas sanksi bagi Ukraina atas kekerasan yang terjadi pada Selasa (18/2/2014).

Yanukovich (yang didukung Rusia) mengutuk aksi demonstran di pusat Kiev. Tempat itu telah diduduki para demonstran selama hampir tiga bulan sejak Yanukovich menolak perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa karena lebih condong mendekat dengan Rusia. Padahal, banyak masyarakat Ukraina yang tidak ingin lagi hidup di bawah pengaruh Rusia.

Kekerasan pekan ini merupakan yang terburuk sejak Ukraina memisahkan diri dari Uni Soviet 22 tahun lalu. Para pemimpin negara-negara Eropa dan Amerika Serikat pun ramai-ramai mengutuk kekerasan itu. Bahkan para duta besar negara Uni Eropa telah berbicara kemungkinan untuk membekukan aset dan memberlakukan larangan bepergian ke negara itu kemarin.

“Uni Eropa akan merespons memburuknya situasi ini, termasuk memberikan sanksi,” kata Presiden Dewan Eropa,Herman Van Rompuy seraya tetap membuka kemungkinan terjadinya kesepakatan perdagangan dan politik Ukraina-Uni Eropa.

Editor: | dalam: Internasional |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »