Dinasti politik Dari kanan ke kiri, Bambang Riyanto, Titik Suprapti dan anak pertamanya Yoshua Shindu Riyanto saat ditemui Espos di rumahnya yang berada di kawasan Solo Baru, Grogol, Rabu (30/10/2013). (Dian Dewi P/JIBI/Solopos)
Kamis, 31 Oktober 2013 05:45 WIB Dian Dewi Purnamasari/JIBI/Solopos Politik Share :

DINASTI POLITIK
Mantan Bupati Sukoharjo, Istri & Anak Nyaleg

Solopos.com, SUKOHARJO — Tiga orang anggota keluarga yang menggeluti dunia politik itu duduk berbincang santai dengan Solopos.com di ruang tamu, Rabu (30/10).

Mereka adalah pasangan suami-istri Bambang Riyanto-Titik Suprapti dan anak pertamanya Yoshua Sindhu Riyanto. Ketiganya aktif berkecimpung di percaturan politik.

Mantan Bupati Sukoharjo periode 2000-2005 dan 2010, Bambang Riyanto, saat ini menjadi calon legislatif (caleg) dari Partai Gerindra untuk daerah pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah.

Sementara istrinya, Titik Suprapti menjadi Ketua DPC Gerindra Sukoharjo. Anak sulungnya, Yoshua Sindhu Riyanto, juga mencalonkan diri sebagai caleg Dapil IV Sukoharjo dari Partai Gerindra.

“Iya seperti ini aktivitas keluarga kami. Tidak ada paksaan untuk memasuki dunia politik. Semua atas keinginan pribadi. Kemungkinan karena sudah familier dengan politik di keluarga ya,” tutur Titik Suprapti yang kala itu mengenakan kemeja batik berwarna biru laut.

Tanpa sungkan, Titik dan BR, sapaan akrab Bambang Riyanto, memperkenalkan anak sulungnya yang memilih menapaki karier politik. Pria berusia 22 tahun itu mereka percaya untuk menjadi kader politik.

Meskipun pengalaman masih minim, BR-Titik optimistis anaknya dapat bekerja dengan baik. Apalagi, pekerjaan di dunia politik itu tidak mudah. Wakil rakyat harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat dan menyampaikan aspirasi.

Oleh karena itu diperlukan kemampuan komunikasi politik yang mumpuni. Berbekal ilmu hukum dan kebijakan publik, Yoshua memberanikan diri bertarung pada pileg 2014 mendatang.

“Saya pikir harus ada wajah baru yang dapat memberikan warna baru di dunia politik Sukoharjo. Karena masih muda, saya juga memiliki idealisme yang kuat,” aku mahasiswa S2 Kebijakan Publik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu.

Bambang Riyanto mengatakan berkarier di dunia politik baginya bukan paksaan. Ia juga menampik anggapan biaya politik yang mahal. Baginya, bekal kedekatan dengan masyarakat harus dimanfaatkan dengan baik.

Saat sudah duduk di kursi parlemen, rakyat sebagai konstituen jangan sampai dilupakan. Ia menilai selama ini yang terjadi di lapangan adalah transaksi politik sehingga rakyat merasa dibeli.

“Saya tidak pernah meminta kepada anak-istri untuk mengharapkan gaji dari politik. Saya juga tidak pernah menghitung berapa biaya politik yang saya keluarkan,” ujarnya tanpa menyebutkan nominal dana kampanye pemenangan dia dan putranya tahun depan.

Disinggung soal isu dinasti politik yang mengemuka belakangan ini, BR mengaku tidak masalah. Pasalnya, dasar hukum yang mengatur pembatasan kegiatan politik keluarga adalah Undang-undang Pilkada.

Sementara untuk kegiatan legislatif belum ada payung hukumnya. Ia juga mengaku tidak pernah memaksa istri serta anaknya terjun ke dunia politik. Keputusan menggeluti politik di tubuh keluarganya itu merupakan kesadaran dari masing-masing pihak.

“Saya tidak ingin melanggengkan dinasti politik. Dulu istri saya maju karena saya merasa program pembangunan selama dua periode menjabat belum selesai. Makanya, dia saya minta maju. Kalau soal anak saya, itu pilihan sendiri. Dan kami juga yakin dia memiki kualitas. Kami positive thinking saja,” lontar dia.

lowongan kerja
lowongan kerja Grains & Dough restaurant, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Bung Karno, Lenso, Cha Cha Cakrabirawa

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (2/6/2017). Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah titusclurut@yahoo.co.uk Solopos.com, SOLO — Cakrabirawa adalah nama kesatuan pasukan penjaga Istana…