Jumat, 13 September 2013 19:05 WIB Moh Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Klaten Share :

PENYEBARAN HIV/AIDS
Tiap Tahun, PMI Klaten Temukan Belasan Kantong Darah Positif HIV

Solopos.com, KLATEN — Palang Merah Indonesia (PMI) Klaten setiap tahun menemukan belasan kantong darah yang positif mengandung human immunodeficiency virus (HIV).

Direktur Unit Transfusi Darah, PMI Klaten, dr Kuswanjana, melalui Kepala TU dan Administrasi, Gunawan, mengatakan kantong darah yang positif mengandung HIV tersebut dibuktikan dengan tiga kali uji di laboratorium PMI Klaten dan dua kali uji di laboratorium PMI Provinsi Jawa Tengah. Kantong darah yang positif terjangkit HIV tersebut selanjutnya dimusnahkan untuk menghindari penularan kepada warga lain.

“Setiap tahun jumlah kantong darah yang mengandung HIV bervariasi. Kadang 12 kantong, kadang 16 kantong, kadang delapan kantong, kadang 10 kantong. Tapi dalam lima tahun terakhir, rata-rata di atas 10 kantong darah yang mengandung HIV,” jelas Gunawan kepada Solopos.com, Jumat (13/9/2013).

Gunawan menjelaskan kantong darah yang positif mengandung HIV tersebut berasal dari sumbangan masyarakat melalui lembaga sosial, kantor tertentu, maupun pribadi yang datang ke Kantor PMI Klaten untuk mendonorkan darah. Setelah diketahui adanya virus yang membahayakan pada darahnya, PMI memberitahu temuan itu kepada penyumbang darah.
“Kami memberi dia surat rujukan supaya memeriksakan diri ke dokter. Kami juga memberitahu ke Dinas Kesehatan supaya warga yang bersangkutan mendapatkan pendampingan. Tugas PMI hanya sebatas menyeleksi darah,” terang Gunawan.

Selain HIV, pada kantong darah juga biasa ditemukan kuman penyakit sifilis, hepatitis B dan C. Gunawan menjelaskan rata-rata penyumbang darah yang terjangkit penyakit berbahaya tersebut merupakan warga pendatang atau warga asli Klaten yang sudah lama merantau. Sebagian dari mereka berasal dari kalangan pekerja seks komersial (PSK), homoseksual atau waria.

Oleh PMI, PSK, homoseksual dan waria masuk kategori risiko tinggi (risti) sebagaimana orang bertato.

“Sebagai antisipasi, kami tidak membolehkan orang bertato mendonorkan darahnya. Kami tidak tahu apakah proses pembuatan tato itu menggunakan jarum yang benar-benar steril,” tandas Gunawan.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Klaten, Bambang Giyanto, mengakui hubungan seks bebas menjadi jalur penularan penyakit mematikan seperti HIV dan AIDS. Oleh sebab itu, pihaknya intensif merazia sejumlah tempat yang disinyalir menjadi tempat mangkal PSK.

Beberapa kawasan yang selama ini menjadi target pengawasan Satpol PP adalah bekas lokalisasi Baben, Gang Pesing tak jauh dari Plaza Klaten, Sor Kluwih, Pasar Wedi, Ngerendeng di Pedan, Pasar Krumpyung Cawas, Moge di Delanggu dan Pasar Sapi Prambanan.

Kolom

GAGASAN
Kids Zaman Now Membaca Media Cetak?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (12/2/2018) dan Harian Bisnis Indonesia edisi Sabtu (10/2/2018). Esai ini karya Lahyanto Nadie, pengampu Manajemen Media Massa di Kwik Kian Gie School of Business dan pengurus Yayasan Lembaga Pers dr. Soetomo Jakarta. Solopos.com,…