(Dok/JIBI/Solopos)
Senin, 26 Agustus 2013 11:03 WIB Tika Sekar Arum/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

HIV/AIDS
48 Orang Terjangkit HIV/Aids

(Dok/JIBI/Solopos)

(Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, WONOGIR I-– Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diketahui pada Juli 2013.

Banyaknya jumlah penderita membuat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri menggagas pelatihan manajerial HIV/Aids bagi para petugas di 37 Puskesmas dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) atau kelompok penderita HIV/Aids yang berkomitmen saling memberi dukungan.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Suprio Heryanto, mewakili Kepala DKK Wonogiri, Widodo, membeberkan jumlah penderita HIV/Aids hingga pertengahan Agustus ini mencapai 48 orang.  Jumlah itu terdiri atas 22 penderita baru pada tahun 2013 dan para penderita yang terjangkiti HIV/Aids pada 2001-2012 dan masih bertahan hidup. Jumlah tersebut sudah dikurangi penderita HIV/Aids yang meninggal dunia.

Suprio mencatat selama kurun waktu 12 tahun, di Kota Gaplek ditemukan 109 penderita HIV/Aids. Sebanyak 61 orang di antaranya meninggal dunia.  “Yang masih hidup, masih bertahan sampai saat ini ada 48 orang. Tiga orang adalah penderita baru pada bulan Juli. Banyak hal yang membuat penderita akhirnya meninggal dunia, salah satunya karena banyak yang tidak mau berobat. Jadi sakit dibiarkan saja, kadang karena alasan malu,” terang dia, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (24/8/2013).

Menutup Diri

Sikap penderita yang menutup diri, diakui Suprio, menjadi kendala yang membuat DKK tidak bisa memantau dan mendorong pengobatan bagi penderita HIV/Aids. Menurutnya, hanya 30-an penderita HIV/Aids yang menjalani pengobatan antiretroviral, yaitu pengobatan untuk mencegah virus HIV berkembang. Keberadaan KDS diperlukan untuk menghadapi situasi di mana penderita HIV/Aids menutup diri. Untuk menguatkan peran KDS, DKK bakal menghelat pelatihan manajerial HIV/Aids.

Keberadaan KDS juga semakin penting sebab mulai tahun 2014 lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang selama ini mendampingi penderita HIV/Aids tidak lagi terikat kontrak dengan Kementerian Kesehatan. “Jadi mulai tahun 2014, tidak ada lagi LSM mendampingi penderita. Solusinya, ya dengan menyiapkan KDS dan petugas Puskesmas, memberi bekal pelatihan manajerial HIV/Aids. Sudah kami usulkan dananya dan sudah disetujui di APBD Perubahan 2013, tinggal kami menunggu saja cairnya,” ujar Suprio.

Selain menyiapkan sumber daya manusia (SDM), Suprio menambahkan pihaknya juga mengupayakan tambahan anggaran penanganan HIV/Aids pada 2014. Dia menjelaskan selama ini penderita HIV/Aids yang mau terbuka mendapat dukungan anggaran Rp500.000 per tahun. Tahun depan, anggaran yang diusulkan Rp60 juta untuk mengkaver semua penderita HIV/Aids di Wonogiri, termasuk mendukung operasional kegiatan KDS.

Tak hanya dari dana tersebut, peluang penderita HIV/Aids untuk mendapat biaya pengobatan bisa diperoleh dari Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Kabid Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kemitraan, Sri Rudianingsih (Ririn), memastikan penderita HIV/Aids yang berasal dari kekuargan miskin bisa mendapat bantuan untuk berobat.

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…