MOBIL MURAH : Kebijakan Mobil Murah Dinilai Picu Kemacetan

Minggu, 21/7/2013
Ilustrasi Macet (Dok/JIBI/Solopos)Ilustrasi Macet (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO — Tahun ini Indonesia diperkirakan akan mulai kebanjiran mobil-mobil murah. Kepastian itu diperoleh setelah aturan mengenai mobil murah alias low cost green car (LCGC) melalui payung hukum Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013, selesai digodog.

Kementerian Keuangan pun memperkirakan para produsen otomotif lokal maupun asing akan mulai memproduksi mobil murah di tahun ini.

Menanggapi hal itu, Ketua Masyarakat Otomotif Surakarta (MOST), Ibnu Sahoer kepada Solopos FM dalam sesi Dinamika103, Minggu (21/7/2013) menyambut baik kebijakan tentang LCGC ini. Sebab diyakini Ibnu, dengan mobil murah dan ramah lingkungan akan meningkatkan penjualan mobil di kawasan Soloraya.

“Saat ini tingkat penjualan mobil di wilayah Soloraya mencapai 1200 unit per bulan, mungkin dengan adanya mobil murah dan ramah lingkungan, penjualan bisa tembus hingga 1300 unit per bulan”, ungkap Ibnu.

Meski menyambut gembira namun Ibnu tak menampik potensi kemacetan yang ditimbulkan akibat membanjirnya mobil murah tersebut. Menurutnya akar masalahnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang mendukung, dihadapkan dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Sementara itu, sejumlah pendengar menanggapi dingin dengan kemungkinan membanjirnya mobil-mobil murah tersebut. Warga Solo, Ho menilai langkah pemerintah terkait kebijakan insentif mobil murah sangat berlawanan dengan komitmen menekan kemacetan. Sedangkan warga Palur, Budi, berpendapat seharusnya pemerintah menyediakan Sembako yang murah, daripada mobil murah.

“Pemerintah itu daripada mengeluarkan mobil murah, lha mbok piye carane membuat Sembako jadi murah, malah semua masyarakat bisa menikmatinya. Kalau ada mobil murah, nanti tambah macet, rakyat kecil malah kena dampak”, tandasnya.