KURIKULUM 2013 : Jumlah Kurang, Buku Ajar Bisa Difotokopi

Kamis, 18/7/2013

Solopos.com, WONOGIRI – Buku ajar untuk kurikulum 2013 bagi SMP yang menjadi pilot project di wilayah Kabupaten Wonogiri telah selesai terdistribusi. Namun, belum bisa diketahui jumlah buku itu telah sesuai dengan total siswa atau belum. Pihak Dinas Pendidikan memberi kebijakan, buku boleh difotokopi jika memang ada kekurangan.

“Sampai saat ini, kami belum mendapat pemberitahuan jumlah buku tersebut apakah kurang atau tidak. Tapi, jika memang ada kekurangan, bisa difotokopi oleh sekolah. Atau bisa membuat tertulis ke kami terkait jumlah kekurangannya. Nanti, akan kami laporkan ke pusat,” kata Kepala Disdik Wonogiri, Siswanto, Rabu (17/7/2013).

Ia menambahkan kebijakan itu berlaku apabila dalam keadaan yang mendesak dan segera dipakai dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Hingga saat ini, pihaknya belum mendapat laporan dan masih menunggu dari pihak sekolah.

Menurutnya, buku ajar kurikulum 2013 yang telah terdistribusi baru untuk jenjang SMP, melalui perantara PT Pos. Buku itu untuk enam sekolah. Sedangkan buku ajar untuk SD, SMA dan SMK belum ada informasi lebih lanjut.

“Semua buku mata pelajaran tingkat SMP kecuali Agama, didrop langsung ke sekolah. Hanya buku Agama yang belum dikirim ke kami. Selanjutnya, kami perintahkan sekolah untuk mengambil buku itu di Disdik,” ujarnya. Total buku yang dikirim di Disdik yakni Buku Agama Islam ada 1.106 buah, Agama Kristen 18 buah, Agama Katholik 13 buah, Hindu ada satu buah dan Budha  ada dua buah.

Di sisi lain, Manajer Operasi Cabang PT Pos Indonesia Wonogiri, Timbul Winoto, mengatakan pendistribusian buku ajar kurikulum 2013 telah dilakukan pada Senin (15/7/2013). Total buku yang didistribusi untuk enam SMP sebanyak 323 boks.

“Distribusi buku itu untuk SMPN 1 Wonogiri, SMPN 2 Wonogiri, SMPN 3 Pracimantoro, SMPN 1 Baturetno, SMPN 4 Jatisrono dan SMP Muhammadiyah Baturetno. Sedangkan jenjang SD, SMA, maupun SMK belum ada informasi lagi,” katanya kepada wartawan, Rabu.

Terkait adanya kekurangan atau tidaknya jumlah buku, pihaknya tidak berwenang untuk membuka boks. PT Pos, lanjut dia, hanya mengecek jumlah jumlah boks sesuai pengiriman dari pusat. “Kami hanya dimintai pendistribusian buku dari pusat. Kalau ada kekurangan, di dalam boks, itu bukan wewenang kami,” imbuhnya.