KUDETA MESIR : Televisi Pro-Morsi Dibungkam, Staf Al-Jazeera Ditangkap

Jumat, 05/7/2013
Massa pro-Morsi tak gentar turun ke jalanan Kota Kairo kendati sekitar 300 rekan mereka ditangkapi militer dan stasiun televisi yang dianggap mendukung presiden terpilih yang kini terguling itu dilarang siaran, Kamis (4/7/2013). (Dailymail.co.uk)Massa pro-Morsi tak gentar turun ke jalanan Kota Kairo kendati sekitar 300 rekan mereka ditangkapi militer dan stasiun televisi yang dianggap mendukung presiden terpilih yang kini terguling itu dilarang siaran, Kamis (4/7/2013). (Dailymail.co.uk)

Solopos.com, KAIRO —Kudeta militer Mesir terhadap presiden terpilih dukungan Ikhwanul Muslimin Mohammad Morsi, Rabu (3/7/2013) malam waktu setempat atau Kamis (4/7/2013) dini hari WIB, berlanjut dengan pembungkaman sebagian media massa negara itu. Stasiun televisi yang dianggap mendukung Morsi dilarang siaran, bahkan staf dari afiliasi Al-Jazeera di Mesir ditangkap setelah saluran televisi internasional itu menayangkan pidato Presiden Morsi yang menentang ultimatum militer beberapa hari lalu.

Saat ini berita ini dikirim Kamis petang waktu setempat atau Kamis malam WIB, massa Ikhwanul Muslimin pendukung Morsi secara bergelombang mengalir memenuhi Bundaran Rabiah. Namun jaringan televisi nasional setempat maupun kontributor stasiun televisi asing dilarang pihak militer menyiarkan unjuk rasa massa Ikhwanul Muslimin yang kini beroposisi tersebut.

“Pasukan keamanan juga menutup siaran stasiun televisi Ikhwanul Muslimin,” ungkap salah seorang anggota kelompok pendukung Morsi.

Pelarangan itu berlaku segera setelah Morsi dilengserkan. Alhasil, televisi hanya menyoroti massa penentang Morsi yang gegap gempita merayakan kemenangan tuntutan mereka. Massa anti-Morsi itu berpesta di ruas-ruas jalan Kota Kairo, sebagian dari mereka menyalakan kembang api yang meledak di udara sehingga memeriahkan angkasa ibu kota Mesir itu.

Televisi yang dianggap pihak militer sebagai penyokong Morsi, yaitu Misr25 bukan saja dilarang siaran tetapi langsung ditutup. Demikian pula halnya dengan Al HafizTV dan Al NasTV. Siaran kedua stasiun televisi itu menghilang dari udara Mesir.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa 11 orang tewas dan 506 orang cedera di 17 provinsi Mesir akibat bentrokan pendukung dan anti-Moursi pasca-pelengseran. Sementara sumber lain, pejabat keamanan setempat, mengungkapkan dalam sepekan drama penggulingan Morsi telah 50 korban jiwa jatuh, termasuk tujuh orang pendukung Morsi yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan di Alexandria dan Kota Marsa Matrouh timur.

Sementara itu, kendati suasana Kota Kairo sehari setelah pelengseran itu dilaporkan sejumlah media massa relatif tenang, nyatanya kantor-kantor, bank, dan toko-toko masih belum beraktivitas. Morsi yang dikenai status tahanan rumah oleh militer juga tak menyerah, melalui video amatiran yang diunggah di Youtube tetap menyatakan bahwa dirinya adalah presiden sah Mesir yang terpilih melalui pemilu.