Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa (kiri) meninjau pembagian bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) di Kantor Pos Mampang Jakarta, Sabtu (22/6/2013). Dalam kesempatan itu ia mengklaim potensi penyimpangan BLSM kecil. (Dwi Prasetya/JIBI/Bisnis) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa (kiri) meninjau pembagian bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) di Kantor Pos Mampang Jakarta, Sabtu (22/6/2013). Dalam kesempatan itu ia mengklaim potensi penyimpangan BLSM kecil. (Dwi Prasetya/JIBI/Bisnis)
Sabtu, 22 Juni 2013 17:53 WIB Muhammad Khamdi/JIBI/SOLOPOS Solo Share :

KENAIKAN HARGA BBM
Data BLSM Kacau, Warga Meninggal Dunia Turut Dijatah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa (kiri) meninjau pembagian bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) di Kantor Pos Mampang Jakarta, Sabtu (22/6/2013). Dalam kesempatan itu ia mengklaim potensi penyimpangan BLSM kecil. (Dwi Prasetya/JIBI/Bisnis)

SOLO – Data penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) karut-marut. Hal itu tampak kala bagi-bagi dana negara yang diklaim pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu dilakukan di Kota Solo.

Solopos.com menemukan nama seorang warga Semanggi, Pasar Kliwon yang sudah meninggal dunia namun tercatat sebagai penerima dana itu. Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, warga meninggal dunia yang turut dijatah BLSM itu bernama Wiryo Dimejo, warga Semanggi RT 002/RW 014, Pasar Kliwon.

Wiryo telah meninggal dunia satu tahun lalu. Kesalahan data diketahui saat petugas Kantor Pos kebingungan mencari nama Wiryo. Kemudian ujung-ujungnya, petugas Kantor Pos menanyakan pada ketua RT setempat, Sabtu (22/6/2013).

Beberapa bulan lalu, Wiryo juga mendapatkan jatah penerima kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Berhubung yang bersangkutan meninggal dunia, pihak RT setempat mengembalikan kartu Jamkesmas kepada puskesmas dan diminta untuk merevisi data.

“Data penerima BLSM dari awal sudah kacau. Hal ini sudah saya prediksi sejak awal. Masak orang meninggal dunia menerima jatah BLSM? Padahal sudah ada pemutakhiran data, terus pemerintah mengacu pada data apa?” kata Ketua RT 002/ RW 015 Semanggi, Rudi Sutopo, saat berbincang dengan Solopos.com, di Semanggi.

Rudi mencurigai data penerima BLSM yang menjadi acuran pemerintah dipastikan amburadul. Karut-marut data BLSM, menurut Rudi, diprediksi terjadi di kota lain. “Kalau kejadiannya seperti ini, jelas BLSM tidak tepat sasaran. Sekarang pun sudah memicu kecemburuan di antara warga. Orang yang secara ekonomi mampu juga mendapatkan BLSM,” kata dia.

 

lowongan kerja
lowongan kerja Grains & Dough restaurant, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Kasus Klaten Mengingat Pejabat Pengingkar Amanat

Gagasan Solopos ini telah terbit di HU Solopos Edisi Rabu (4/1/2017). Buah gagasan Muhammad Milkhan, pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten yang beralamat email di milkopolo@rocketmail.com. Solopos.com, SOLO — Predikat laknat memang pantas disematkan kepada para pejabat yang mengingkari amanat. Para pejabat…