Terminal Bahan Baku Rotan Soloraya Butuh Modal Rp120 Juta

SOLO – Pasokan bahan baku rotan yang semakin minim memaksa Forum Rembug Industri Rotan Trangsan Gatak Sukoharjo segera merealisasikan pembuatan terminal bahan baku rotan kendati dengan kapasitas kecil dan dirintis secara swadaya.

Ketua Forum Rembug Industri Rotan Trangsan, Suparji, menyampaikan terminal bahan baku rotan sudah digagas sejak 2008 lalu dan sudah melalui kajian riset dari Bank Indonesia dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Tetapi, hingga saat ini belum terealisasi karena tidak ada anggaran untuk membangun terminal tersebut.

Dia menjelaskan, dalam kajian itu terminal bahan baku rotan bisa dibangun dengan biaya investasi Rp4,8 miliar atau Rp2 miliar dengan syarat gedung sudah ada. “Hanya saja, kami tidak punya anggaran sebesar itu, harapannya bisa dapat kucuran dana dari pemerintah. Lantaran belum juga terealisasi, kami akan mengawalinya lewat lembaga koperasi yang sudah ada saat ini,” kata Suparji, saat ditemui Solopos.com, di Hotel Sahid Jaya Solo, Kamis (13/6/2013).

Melalui koperasi tersebut, Trangsan akan merintis terbentuknya terminal bahan baku rotan dengan modal hanya Rp120 juta.

Salah satu pengurus pusat Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (Amkri), Hardono, menyampaikan minimnya pasokan bahan baku rotan menjadi hal yang ironis karena 80% kebutuhan bahan baku rotan dunia ada di Indonesia.

Dia menjelaskan, meskipun 80% bahan baku rotan ada di dunia, tapi produk kerajinan rotan Indonesia hanya menguasai 20% dari konsumsi luar negeri. Artinya, banyak bahan baku rotan yang justru dikuasai negara lain.

Kebijakan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan yang menghentikan ekspor bahan baku rotan sebenarnya sudah sangat strategis. Tapi bahan baku rotan justru makin langka. “Yang jadi persoalan sekarang adalah stakeholder rotan baik di daerah penghasil bahan baku rotan maupun di daerah penghasil kerajinan rotan belum membangun komunikasi yang terbuka.”

Daerah penghasil bahan baku rotan ada di Sulawesi dan Kalimantan. “Mereka mengklaim bahwa kebutuhan para perajin rotan di Cirebon dan Solo sangat minim. Padahal tidak demikian. Di Trangsan saja kami mencatat kebutuhan bahan baku rotan bisa mencapai 510 ton per bulan.”

Kebutuhan itu untuk 23 pengusaha kerajinan rotan yang masih eksis hingga saat ini. “Memang sekarang tinggal 23 hingga 50 pengusaha kerajinan rotan. Tahun 2005 masih ada 500-an. Banyak yang mati suri, gulung tikar dan alih profesi,” jelas Hardono.

Editor: | dalam: Ekonomi |
Menarik Juga »