GAMELAN
70% Gamelan Wirun Dikirim ke Bali

SUKOHARJO--Pengrajin gamelan di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo masih mengandalkan segmen pasar dalam negeri terutama Bali.

Sebagian pengrajin mengaku 70% pesanan gamelan berasal dari Pulau Dewata.

Salah satu pengrajin gamelan, Sutarno, mengatakan pesanan gamelan dari Bali banyak digunakan untuk keperluan upacara adat. Berdasarkan pengetahuannya, setiap rumah di Bali wajib memiliki sepasang gong.
Gong yang dibuat dari bahan campuran timah dan tembaga ini ditempatnya dihargai Rp12 juta sepasang. Pembeli dari Bali mayoritas memesan komoditas tersebut.

“Pembeli kami memang mayoritas dari Bali, sekitar 70%. Bahkan pembeli dari luar negeri banyak yang melalui perantara penjual dari Bali,” ujarnya saat ditemui  Solopos.com di kediamannya RT 001/RW 003, Dukuh Wirun, Desa Wirun, Kamis (6/6/2013).

Pria yang terkenal dengan panggilan Nano ini mengatakan pembeli dari luar negeri mengaku lebih mudah bertransaksi di Bali. Pasalnya, transportasi lebih mudah dan pedagang lebih banyak di sana. Sementara di daerah asalnya, gamelan seperti gong, gender dan boning memakan waktu produksi lebih lama. Selain itu, proses pengiriman juga tidak semudah di Bali.

“Dulu ada pembeli dari Jerman yang datang ke sini. Tetapi dia merasa lebih nyaman bertransaksi di Bali,” aku dia.

Nano mengaku pesanan gamelan sejak akhir tahun 2012 cukup meningkat. Kendati demikian, ia enggan merinci berapa jumlah pesanan yang ia terima setiap bulan. Ia hanya mengatakan pengrajin gamelan di desanya sering kewalahan. Karena itulah, ia dan pengrajin lain menerapkan sistem simbiosis mutualisme.

Pengrajin biasanya bertukar barang dagangan saat kekurangan untuk memenuhi pesanan. Hal itu juga berlaku untuk bahan baku pembuatan gamelan. Mereka akan bekerja sama untuk memenuhi kekurangan satu sama lain.

“Setelah naik, pesanan gamelan biasanya akan mengalami masa sepi. Kami yang sudah cukup lama berkecimpung tahu fasenya. Mendekati Hari Raya Nyepi dan Galungan biasanya ramai pesanan,” jelasnya.

Soal bahan baku, ia mengaku saat ini tidak kesulitan mencari bahan baku gamelan. Kendati demikian, ia mengaku harga bahan baku saat ini cukup mahal yaitu Rp70.000/kg untuk tembaga dan Rp270.000 untuk timah.

Beruntung, pembeli mau membayar mahal karena tahu harga bahan baku naik. Sepasang gong ditempatnya ia banderol Rp12 juta. Sementara gong besar dengan diameter 90 cm ia jual Rp12 juta/item. Satu set gamelan, ia lepaskan dengan harga Rp300 juta-Rp350 juta tergantung dari kualitasnya.

Pengrajin lain, Parni, juga mengatakan hal senada. Sanggar Panji Pamungkas miliknya saat ini masih melayani pesanan dari Bali. Gong ia hargai Rp12 juta sepasang. Sementara gamelan lain seperti saron dihargai Rp3 juta.  Ia mengaku setiap bulan selalu mendapat pesanan dari Pulau Dewata. Namun, ia enggan menyebutkan jumlah pastinya. Ia memiliki 15 karyawan untuk mengerjakan pesanan itu.

“Kami memang melayani banyak pembeli dari Bali yang disalurkan juga ke luar negeri,” jelasnya.

Editor: | dalam: Sukoharjo |
Menarik Juga »