Tak Suka Lokasi Pasar Darurat, Pedagang PASAR NGUTER Pilih Sewa Kios Sendiri

Pedagang dan pembeli bertransaksi jual-beli di bagian depan Pasar Nguter, Minggu (19/5/2013). Pedagang di pasar itu khawatir dengan rencana pemindahan mereka ke lokasi pasar darurat terkait rencana pembangunan pasar tersebut, karena lokasi pasar darurat itu dinilai terlalu jauh dari jalan raya. (JIBI/SOLOPOS/Dian Dewi Purnamasari)Pedagang dan pembeli bertransaksi jual-beli di bagian depan Pasar Nguter, Minggu (19/5/2013). Pedagang di pasar itu khawatir dengan rencana pemindahan mereka ke lokasi pasar darurat terkait rencana pembangunan pasar tersebut, karena lokasi pasar darurat itu dinilai terlalu jauh dari jalan raya. (JIBI/SOLOPOS/Dian Dewi Purnamasari)

SUKOHARJO — Sebagian besar pedagang Pasar Nguter, Sukoharjo, tidak menyukai lokasi pasar darurat yang berada di pinggir jalan Dusun Dukuh, Gupit. Para pedagang ini berencana untuk menyewa kios secara swadaya di belakang Pasar Nguter.

Pedagang jamu dan bala pecah, Yatmini, 71, mengatakan pedagang sudah melakukan rapat koordinasi tahap akhir dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sukoharjo di Kantor Pemerintah Desa Nguter, Sabtu (18/5/2013). Berdasarkan hasil rapat itu, lokasi pasar darurat ditetapkan di Dukuh, Gupit, Nguter. Mayoritas pedagang cukup kaget dengan keputusan tersebut. Pasalnya, sejak awal pedagang sudah mengusulkan agar lokasi pasar darurat tidak terlalu jauh dari Pasar Nguter. Pedagang takut pengunjung enggan datang di lokasi yang jauh dari jalan raya itu.
“Terus terang kami gelisah mendengar kabar itu. Apalagi mendengar kabar pembangunan Pasar Ir Soekarno yang tak kunjung jadi. Kami juga was-was,” tuturnya kepada Solopos.com, Minggu (19/5/2013).

Yatmini mengatakan kegelisahan itu dikarenakan berjualan di pasar adalah sumber penghasilan utamanya. Ia masih memiliki tiga orang cucu yang saat ini akan masuk ke jalur sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia takut setelah pindah ke pasar darurat penjualannya sepi dan tidak bisa membiayai ketiga cucunya. Bersama pedagang lain, ia juga telah merencanakan untuk menyewa lahan di sekitar pasar. Upaya itu ia lakukan semata-mata untuk mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Ia tidak mau kehilangan kontak dengan pelanggan dari luar kota. “Apalagi waktu relokasi ditentukan bulan Puasa dan menjelang Lebaran. Saat itu biasanya kami panen pembeli dari luar kota yang sedang mudik,” jelasnya.

Dialog Percuma
Pedagang lain, Yanto, mengatakan secara umum pedagang mengeluhkan dua hal. Pertama lokasi pasar yang jauh dari jalan raya. Kedua, waktu relokasi pasar yang terlalu berdekatan dengan bulan Puasa dan Hari Raya Lebaran. Ia kecewa Pemkab selama ini selalu melibatkan pedagang untuk berdiskusi tapi pada kenyataannya pedagang harus menerima lokasi yang disodorkan Disperindag. Mau tidak mau pedagang harus menuruti kehendak Pemkab.

“Pedagang sejak awal sudah mengusulkan area belakang pasar di Lingkungan Nguter RT 002 dan 003/RW 005, Desa Nguter. Kami kecewa karena sudah tujuh kali rapat tetapi hasilnya seperti ini. Mau protes juga tidak bisa,” keluhnya. Ia mengatakan pedagang diminta pindah dari lokasi pasar pada pertengahan Juli. Selanjutnya, pasar akan dibangun dengan target pembangunan enam bulan. Bangunan pasar diharapkan jadi pada bulan Desember. Sehingga pada Januari 2014, pedagang sudah dapat menempati pasar baru.

“Sejak Februari lalu pedagang sudah diminya mengurus bea balik nama kios. Pedagang mulai di sosialisasi sejak Februari,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Sukoharjo, Hasman Budiadi, mengatakan Disperindag seharusnya mengkaji ulang lokasi pasar darurat selama masih ada waktu. Ia berharap pedagang dapat menempati pasar darurat di satu lokasi dengan prinsip kebersamaan. Pasalnya, suasana pasar justru akan semakin sepi jika pedagang tercerai-berai. “Intinya dimusyawarahkan dengan sebaik-baiknya. Karena saat ini masih ada waktu untuk berdialog dengan pedagang,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com.

Seperti diketahui, proyek pembangunan Pasar Nguter dibiayai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) senilai Rp10 miliar. Pasar Nguter dibagun menjadi satu-satunya pasar jamu di Indonesia. Pembangunan pasar ini juga didampingi oleh APBD Sukoharjo senilai Rp1 miliar.

Editor: | dalam: Sukoharjo |
Menarik Juga »