Jangan Lombok, Kuliner Galak Khas Wonogiri

Suasana lomba memasak jangan lombok di halaman kantor Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Rabu (15/5/2013). (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)Suasana lomba memasak jangan lombok di halaman kantor Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Rabu (15/5/2013). (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)

Suasana lomba memasak jangan lombok di halaman kantor Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Rabu (15/5/2013). (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)

Suasana lomba memasak jangan lombok di halaman kantor Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Rabu (15/5/2013). (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)

Makanan ini mungkin sederhana dan murah bumbunya, namun galaknya luar biasa. Itulah jangan lombok alias sayur lombok, yang terus diperjuangkan menjadi salah satu kuliner khas Wonogiri. Sayur dengan bahan baku tempe yang dimasak dengan kuah santan dengan rajangan lombok atau cabai yang royal itu memang lazim dijumpai di banyak tempat di Wonogiri.

Untuk lebih memopulerkan makanan khas ini, Pemerintah Kecamatan Eromoko, Rabu (15/5/2013) menggelar lomba kreasi jangan lombok. Lomba ini diikuti 34 tim yang masing-masing terdiri atas tiga orang, bertempat di pendapa dan halaman kantor Kecamatan Eromoko. Camat Eromoko, Danang Erawanto mengatakan peserta lomba berasal dari PKK di semua dusun/kelurahan, UPT Disdik, UPK PNPM, Koramil, Polsek dan warga Eromoko. Namun, warga yang tidak boleh ikut yakni pemilik warung makan.

“Jumlah peserta kami batasi karena keterbatasan tempat. Ini saja yang mendaftar ada ratusan. Tidak hanya dari wilayah Kecamatan Eromoko, tetapi juga dari kecamatan lain. Ke depan, akan kami jadikan agenda tahunan. Kami akan membuka pendaftaran untuk peserta di luar kecamatan dan pemilik warung makan,” katanya.

Menurut Danang, semua peserta menyajikan menu Jangan Lombok dengan model beragam, seperti dicampur daging, ada yang diberi taburan kacang tolo dan beberapa di antaranya ada yang berkreasi pada metode pengolahan bumbu. “Rencana awal, sistem penjuriannya dengan vote lock berdasarkan penilaian warga yang datang dan mencicipi masakan itu. Tapi, berhubung peserta dan penontonnya banyak, kami mendatangkan juri dari Wonogiri yang terdiri atas ahli gizi, pakar masak dan ahli kesehatan,” ujarnya. Keluar sebagai Juara Pertama yakni tim dari UPT Dinas Pendidikan, Juara Kedua diraih Koramil dan Juara Ketiga tim dari Kecamatan.

Ia menambahkan tujuan utama dari festival tersebut berupa penyadaran ke publik tentang potensi kuliner di Wonogiri yang harus dilestarikan. “Kami sudah canangkan Jangan Lombok sebagai ikon kuliner di Wonogiri khususnya Eromoko. Kemudian, di setiap warung makan diharuskan ada menu jangan lombok. Juga dalam setiap acara pertemuan, rapat dan seminar,” imbuhnya.

Editor: | dalam: Wonogiri |

3 Komentar pada “Jangan Lombok, Kuliner Galak Khas Wonogiri”

  1. feri
    16 Mei 2013 pukul 09:49

    jozz…. gandos tenan ki, dadi pengen mulih

  2. yana
    16 Mei 2013 pukul 11:09

    Saya mengapresiasi ide P. Danang camat Eromoko, kebetulan nenek saya dari Baturetno Wonogiri, ketika saya masih kecil setiap kali datang ke Baturetno tentu ada sayur lombok yg kadang – kadang tidak hanya dimasak dengan tempe tetapi dengan thethelan kambing. Wadhuh enaknya luar biasa dengan khasnya yg pedhas sampai gembrobyos dan ketika itu makanan pedhas sepertinya tidak begitu bermasalah ketika masuk perut. Tapi suatu saat saya dan teman2 gereja mengadakan aksi sosial ke Wuryantoro, dimana salah satu acaranya adalah makan bersama tentunya salah satu menu yg disajikan adalah ” sayur lombok ” sesuai dengan permintaan teman2. Sebelumnya ada utusan yg dikirim ke Wuryantoro untuk menyampaikan beaya untuk acara makan bersama dan beaya2 yg lainnya. Tiba saatnya aksi sosial dilaksanakan termasuk diantaranya acara makan bersama. Kayaknya teman2 begitu bersemangat dan sayur yg cari pertama adalah sayur lombok ciri khas Wonogiri hingga tak terkendali menikmai enaknya sayur lombok. Tapi pada saat perjalanan pulang, diperjalanan teman2 mulai merasakan perut melilit sapai harus berhenti di tengah perjalanan untuk acara buang hajat. Ya .. Tuhan, ini yg namanya sudah dimakan usia tapi tidak menyadari, ketika masih muda tidak masalah makan sayur lombok banyak, tetapi kalau sudah dimakan usia ya mestinya tahu diri. Salut buat P. Danang, sampai sekarang saya masih suka tapi untuk makan banyak2 memang sudah tidak berani lagi.

  3. Wisnu
    16 Mei 2013 pukul 16:03

    Kalo bisa sih didukung juga dengan program pertanian untuk subsidi petani lomboknya. Jangan sampai makanan khasnya ‘Jangan Lombok” tapi lomboknya impor dari daerah lain. Lombok khas Wonogiri kalau memang ada yang sekalian aja disebarluaskan. Jika perlu ada pusat pembibitan khusus untuk lombok lokal yang bisa mensuplai kebutuhan bahan baku kiliner khas Wonogiri ini.

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris

    No items.

Menarik Juga »