Sejumlah pencatat meteran listrik mendatangi Kantor PLN APJ Solo di Purwosari, Solo, Senin (13/5/2013). Mereka menuntut tunggakan gaji yang belum dibayarkan untuk bulan April dan kekurangan gaji bulan Februari 2013. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Senin, 13 Mei 2013 18:35 WIB Binti Sholikah/JIBI/SOLOPOS Solo Share :

Upah Belum Dibayar, Ratusan Petugas Pencatat Meter PLN Demo

Sejumlah pencatat meteran listrik mendatangi Kantor PLN APJ Solo di Purwosari, Solo, Senin (13/5/2013). Mereka menuntut tunggakan gaji yang belum dibayarkan untuk bulan April dan kekurangan gaji bulan Februari 2013. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

SOLO — Ratusan buruh outsourcing petugas pembaca meter (cater) Perusahaan Listrik Negara (PLN) se-Soloraya berdemonstrasi di depan kantor pusat PT PLN Persero Area Soloraya Jl Slamet Riyadi, Senin (13/5/2013). Mereka mengajukan sejumlah tuntutan kepada PT PLN Persero dan PT Dian Sakti Anhari (PT DSA) selaku vendor pegawai outsourcing PT PLN Persero.

Menurut koordinator lapangan (korlap) aksi tersebut, Budi Santoso, tuntutan ratusan buruh tersebut, antara lain dihapuskannya sistem kerja kontrak dan outsourcing; dibayarkannya upah kerja pada April dan kekurangan upah pada penggajian Februari; pembayaran upah tepat waktu sesuai kesepakatan yakni setiap tanggal lima; adanya transparansi hak-hak buruh cater sesuai kesepakatan PT PLN dan vendor; hak jamsostek dan seragam kerja segera diberikan.

Seorang pegawai cater PLN Sukoharjo, Tri Muhtadi, 40, mengaku telah bekerja puluhan tahun di kantor tersebut. Namun, dia masih dipekerjakan sebagai pegawai outsourcing dengan sistem kontrak. Pria yang sudah menikah itu mengaku hanya mendapat gaji pokok sebesar upah minimum regional (UMR) Rp900.000 ditambah Rp200.000 sebagai uang transportasi. Untuk menutupi pengeluaran tiap bulan, dia mengandalkan hasil berjualan istrinya di warung.

“Upah itu sudah sesuai kesepakatan. Tapi kami menuntut kejelasan penggajian tanggal berapa, soalnya setiap bulan pasti molor-molor terus. Bulan Januari lalu malah molor sampai tanggal 22,” kata dia kepada wartawan.

Salah satu anggota Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992, Endang Setyowati, mengatakan buruh telah mengadakan pertemuan beberapa kali namun belum menemukan solusi. Pihaknya berharap demo kali itu mendapat respons positif dari pihak PT PLN dan PT DSA.

“Para buruh itu sudah bekerja puluhan tahun tapi tiap tahun vendor bisa ganti sehingga buruh tetap diperlakukan sebagai pegawai baru. Tentu saja itu memberatkan buruh,” tegasnya kepada wartawan.

Manajer Area Surakarta PT DSA, Adrias Temi, meyakinkan kepada buruh pembayaran gaji paling lambat tanggal 10 tiap bulannya. Sementara penggajian Mei bakal dibayar maksimal Selasa (14/5/2013) sekaligus melengkapi pembayaran gaji pada Februari.

“Untuk seragam hari ini sudah bisa melakukan pengukuran,” kata dia di depan ratusan buruh tersebut.

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…