Nelayan Pertanyakan Kepastian Pengerukan Batu Pantai Waru

Batu-batu berserakan di Pantai Waru . Foto diambil Juni 2011.  (Dok/JIBI/SOLOPOS) Batu-batu berserakan di Pantai Waru . Foto diambil Juni 2011. (Dok/JIBI/SOLOPOS)

WONOGIRI--Nelayan di Pantai Paranggupito, Wonogiri mempertanyakan kepastian pengerukan batu di Pantai Waru. Pasalnya, sudah tujuh bulan ini mereka terpaksa melaut dari Pantai Sadeng di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan penghasilan kotor Rp50.000-Rp75.000 per hari.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Wonogiri, Sucipto, mengatakan para nelayan tidak bisa melaut dari Pantai Waru karena masih ada tumpukan batu yang menghalangi bibir pantai.

“Sebenarnya, kami juga berusaha mencari dana untuk menyewa bego agar bisa memindah batuan tersebut. Tapi, dana dari desa juga belum mampu karena biayanya sekitar Rp15 juta,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Minggu (17/3/2013).

Padahal, lanjut dia, walaupun para nelayan berangkat dari Sadeng, mereka tetap mencari ikan di wilayah Pantai Paranggupito. Menurutnya, biaya untuk sekali melaut dari Pantai Sadeng yakni Rp18.000 atau empat liter solar, sedangkan dari Pantai Waru cukup dengan Rp4.500 atau satu liter solar.

“Kalau dihitung ya hanya cukup untuk makan dan menginap di Sadeng. Tapi, kalau pas ada rezeki atau mendapat banyak hasil tangkapan, bisa untuk pulang ke Paranggupito. Namanya juga untung-untungan,” ujarnya.

Ia berharap segera ada kejelasan dari Pemkab terkait rencana pengerukan itu karena nelayan telah lama menunggu tindak lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Disnakperla) telah mengusulkan pembuatan detail engineering design (DED) Pantai Waru. Tapi, pemkab masih menunggu dana untuk pembuatan perencanaannya karena APBD Kabupaten minim.

Editor: | dalam: Wonogiri |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »