KIPRAH YONIF 408 DI PERBATASAN (BAGIAN II/Habis)
Lagu Butiran Debu Jadi Perekat Keakraban

Seorang personel Yonif 408/Suhbrastha tengah mengajar anak-anak di sebuah sekolah di Papua, sebagai salah satu tugas pengabdian masyarakat di samping melaksanakan tugas utama melakukan pengamanan perbatasan Indonesia-Papua Nugini. (yonif-408-suhbrastha.blogspot.com)Seorang personel Yonif 408/Suhbrastha tengah mengajar anak-anak di sebuah sekolah di Papua, sebagai salah satu tugas pengabdian masyarakat di samping melaksanakan tugas utama melakukan pengamanan perbatasan Indonesia-Papua Nugini. (yonif-408-suhbrastha.blogspot.com)

Satuan Batalyon Infanteri (Yonif) 408/Suhbrastha membuktikan bahwa memagari wilayah perbatasan Indonesia lebih ampuh melalui nilai-nilai kearifan lokal. Bermasyarakat, gotong royong dan mengakrabi kebudayaan setempat memudahkan 650 prajurit yang bertugas di Distrik (Kecamatan) Arso Timur, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, diterima dengan hangat oleh warga setempat.

Beberapa prajurit bahkan kemudian dianggap seperti anak sendiri oleh warga di distrik yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini itu. Ketika ditemui Solopos.com di Markas Yonif 408/Suhbrastha di Sragen, Senin (4/3/2013), Komandan Batalyon, Letkol (Inf) Edy Saputra, berbagi kisah selama enam bulan memimpin pasukannya di daerah tersebut.
Selain mengamankan daerah perbatasan, setiap hari pasukan menjalankan kegiatan bakti sosial untuk warga. Pelayanan kesehatan, mengajar di sekolah dan menyajikan hiburan bagi warga menjadi jadwal rutin sehari-hari para prajurit infanteri itu.

Untuk menghibur warga, mereka membawa seperangkat alat band lengkap dengan 12 orang pemain band yang merupakan anggota batalyon itu. Suhbrastha Nada, begitu nama band tersebut. Para awak band itu sebelumnya telah berlatih lagu-lagu daerah Papua dan lagu-laku pop terkini. ”Yang menarik, kami sering diminta membawakan lagu Butiran Debu yang sedang naik daun itu. Warga setempat, terutama yang tinggal di sekitar pusat distrik, ternyata familiar dengan lagu-lagu pop Indonesia terkini. Mereka sangat senang dengan sajian kami,” kata Edy.

Selebihnya, mereka membawakan lagu-lagu daerah Papua atau Maluku, seperti Aku Anak Papua dan Apuse, sesuai selera mayoritas warga di perbatasan timur Indonesia itu. Kemampuan beradaptasi hingga mengakrabi kesenian setempat itulah yang semakin mencairkan hubungan para prajurit itu dengan warga setempat dan kemudian menjalin keakraban dengan warga.
Saat disinggung tentang prestasi terbesar selama bertugas, dia menyebut pengakuan warga sekitar terhadap para prajurit yang kemudian mereka anggapa seperti saudara sendiri. Beberapa prajurit, menurut Edy, bahkan telah diperlakukan layaknya anak sendiri oleh warga di perbatasan Indonesia-Papua Nugini itu.

Edy menyatakan mengagumi penggunaan bahasa Indonesia oleh warga perbatasan itu yang memang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Warga Papua, menurut Edy, menguasai bahasa Indonesia lisan dengan baik. Bahasa Indonesia dipilih untuk mempermudah komunikasi antarwarga. ”Di Papua, ragam bahasa daerahnya cukup banyak. Lain daerah, bisa lain bahasanya. Daripada menggunakan bahasa daerah masing-masing, mereka lebih memilih berbahasa Indonesia,” kata dia.

Sersan Elsana Eko Adi Saputro, yang baru kali pertama mengikuti penugasan di wilayah perbatasan, mengaku mendapatkan inspirasi positif. Dia mengaku kagum dengan semangat kaum muda di Kampung Kibay, Distrik Keerom. Selama bertugas, dia mendapat tugas mengajar siswa SD di desa tersebut.

Meski berada di pedalaman dengan akses jalan dan fasilitas sekolah yang serba terbatas, murid-murid sekolah itu, menurut Elsana, memiliki cita-cita yang tinggi. Mayoritas murid laki-laki, kata dia, ingin menjadi pemain sepak bola, sementara murid perempuan rata-rata ingin menjadi guru. Sayangnya, menurut Elsana, keinginan mereka terhambat kondisi SD Inpres Kibay yang sempat vakum selama beberapa bulan. Vakumnya SD disebabkan para guru enggan mengajar setelah beberapa bulan gaji belum turun.

”Setelah kami usahakan bersama kepala desa, gaji mereka bisa turun. Akhirnya, mereka bersedia kembali mengajar bersama-sama dengan kami. Sekarang, SD Inpres itu sudah berganti status menjadi SD Negeri Kibay I,” kata Elsana.
Selain mengajar, dia dan prajurit lain juga mendirikan Perpustakaan Kibay sebagai rintisan perpustakaan di kampung itu, Januari lalu. Perpustakaan itu diisi buku-buku pelajaran dan buku cerita anak hasil sumbangan rekan-rekannya.
Bagi laki-laki berumur 23 tahun asal Desa Klandungan, Kecamatan Ngrampal, Sragen ini, kebersamaan yang dia bangun dengan murid-murid SD di Kibay itu sangat membekas di hatinya. Ketika hendak meninggalkan Kampung Kibay, kata Elasana, murid-murid memberikan pelukan hangat seolah enggan berpisah.

Mereka lantas memberinya kenang-kenangan berupa mata panah dan sepasang tanduk rusa yang kini dibawanya pulang. “Semangat murid-murid memacu saya untuk lebih mengembangkan diri,” ujar Elsana. Sejumlah prajurit anggota Yonif 408 juga menuturkan bahwa mereka sangat berkesan ketika bertugas di perbatasan timur Indonesia itu. Satu hal yang membuat mereka bangga adalah warga di perbatasan itu tetap ”cinta mati” dengan Indonesia.

Editor: | dalam: Sragen |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »