
Sajian soto di warung soto Bu Par yang terletak di tepi jalan Adi Soemarmo, Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar. Foto diambil, Senin (4/3/2013). (Iskandar/JIBI/SOLOPOS)
KARANGANYAR–Warung soto dan bakso Bu Par di Jalan Adi Soemarmo, Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar sering menjadi jujugan para pegawai di Kecamatan Colomadu dan sekitarnya. Karena selain harga soto terjangkau yaitu Rp4.000 per mangkuk, rasa sotonya menggoda selera, lauk atau makanan penunjang lainnya cukup pepak.
“Banyak pegawai beberapa bank di Colomadu, pegawai kecamatan, pegawai hotel di Blulukan sering kali makan di sini secara rombongan. Kalau hari Minggu, makanan atau lauk yang ada di meja itu lebih beragam dan lebih banyak. Karena pengunjung yang datang di sini banyak sekali,” papar pemilik warung Parinem, 67, ketika ditemui wartawan di sela-sela meladeni konsumen di warungya, Senin (4/3/2013).
Menurut dia usaha yang digelutinya sejak 40 tahun lalu ini pada perjalanannya mengalami pasang surut cukup signifikan. Namun untuk racikan bumbu, dia mengaku tetap setia dengan bumbu tradisional yang diraciknya sendiri sebanyak belasan macam. Karena itu tak heran jika mereka yang mencoba mencicipi soto bening buatannya, banyak yang ketagihan sehingga datang kembali. Bagi mereka yang tidak suka masakan terlalu manis, pas rasanya jika memilih soto Bu Par sebagai menu yang disantap.
Selain itu kompletnya lauk yang disajikan seperti, lentho, babat, iso, jerohan ayam dan sebagainya kian membangkitkan selera pembeli.
Dalam sehari, papar dia, rata-rata menghabiskan beras 15 kilogram, daging sapi delapan kilogram dan sebagainya. Namun jika hari Minggu stok daging akan naik hingga menjadi 15 kilogram.
Sementara itu salah seorang putra Parinem, Partini, 47, yang membantu ibunya berjualan mengatakan usaha yang ditekuni ibunya semula hanya bakso. Pada awalnya daganganya dijajakan dengan dipikul oleh ayahnya. Dalam perkembangannya usaha mereka meningkat dan menyewa tempat di salah satu tempat di Tohudan. Karena langganan semakin banyak usaha yang digeluti ditambah dengan soto daging sapi.
Sejak saat itu usaha mereka kian maju, namun menu soto yang digeluti belakangan sekarang justru jauh lebih berkembang pesat. Hasilnya sekarang bisa digunakan untuk membeli tanah di tepi jalan Adi Soemarmo seluas 170 meter persegi.
Baca Juga:
Editor: Tutut Indrawati | Dalam : Kuliner |


