
Jenazah dua personel polisi Malaysia yang menjadi korban bentrokan dengan kelompok bersenjata asal Filipina di Negara Bagian Sabah, Jumast (1/3/2013) tiba di Bandara Subang, Kuala Lumpur. Aparat keamanan gabungan Malaysia hari ini menyerbu tempat persembunyian kelompok bersenjata Filipina tersebut untuk mengakhiri pendudukan yang sudah berlangsung selama tiga pekan. (JIBI/SOLOPOS/Reuters)
Operasi untuk menguasai kembali wilayah yang dikuasai oleh sekitar 180 orang Filipina bersenjata api itu dimulai pukul 07.00 waktu setempat. Pemerintah sudah menerjunkan tujuh batalyon angkatan darat untuk mendukung polisi.
Dua personel polisi dan 12 anggota kelompok bersenjata itu tewas Jumat lalu saat polisi mencoba memperketat pengepungan. Bentrokan ini memicu lebih banyak laki kontak tembak pada akhir p[ekan di mana enam polisi dan tujuh anggota kelompok tewas. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa aksi kekerasan ini bisa menyebar.
“Setelah serangan pertama saya tegaskan para penyusup itu harus menyerah dan jika menolak maka aparat berwenang negeri ini akan bertindak tegas,” ujar Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dalam pernyataan resmi. “Pemerintah harus melakukan tindakan yang tepat untuk mempertahankan kedaulatan negeri ini,” imbuhnya.
Kelompok bersenjata itu, yang tiba di lokasi tiga pekan lalu dengan menaiki perahu motor, mengklaim sebagai kerabat Sultan Sulu di Filipina selatan, yang dulu menguasai sebagian wilayah Kalimantan Utara selama berabad-abad. Mereka menuntut pengakuan dan peningkatan pembayaran sewa dari Malaysia atas wilayah yang mereka klaim sebagai bagian dari kekuasaan kesultanan itu.
Pemerintah Malaysia menolak tuntutan itu dan bersama pemerintah Filipina mendesak agar kelompok itu pulang saja.
Baca Juga:
Editor: Bambang Aris Sasongko | Dalam : News |


