Laju Inflasi Jawa Tengah Melebihi Prediksi Bank Indonesia

Ilustrasi (JIBI/Bisnis Indonesia/Endang Muchtar)Ilustrasi (JIBI/Bisnis Indonesia/Endang Muchtar)

SEMARANG – Wilayah Jawa Tengah mencatatkan laju inflasi sebesar 5,51% pada Februari 2013, dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya.

Laju kenaikan harga tersebut melampaui prediksi dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jateng-DIY yang menetapkan inflasi pada kisaran 4,8%–5,3% (YoY) selama triwulan I/2013. Bukan hanya posisi inflasi Februari yang melampaui prediksi, namun hal yang sama juga terjadi pada bulan sebelumnya. Pada Januari, Provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Bibit Waluyo ini mencatatkan inflasi 5,37%.

Dewi Setyowati, Wakil Ketua Tim Pemantauan dan Pengendalian Harga (TPPH) Jateng, mengatakan pihaknya mengidentifikasi masih adanya tekanan inflasi khususnya dari kenaikan harga komoditas bahan pangan. Identifikasi tersebut dilakukan pada rapat bersama TPPH dengan sejumlah pemangku kepentingan pada 19 Februari lalu.

“Inflasi pada Februari 2013 diperkirakan terutama disumbang oleh kenaikan beras, daging sapi, bawang merah, cabe merah, dan rawit, minyak goreng khususnya curah, tarif angkutan udara, sepeda motor dan mobil, tomat sayur,” ujar Dewi yang juga menjabat sebagai Deputi Kepala Perwakilan BI Jateng-DIY. Menurut dia, selain karena faktor musiman dan cuaca yang kurang mendukung, kenaikan harga komoditas tersebut juga dipicu oleh ekspektasi terkait kenaikan upah dan tarif listrik (TTL).

Sementara itu, lanjutnya, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menginformasikan bahwa kenaikan TTL tidak memberikan dampak yang signifikan pada tarif hotel. Komposisi tarif hotel menggunakan fix cost dan variable cost dan listrik merupakan fix cost.

“Namun, kenaikan tarif listrik masih biasa disiasati dengan melakukan penghematan listrik di beberapa area tertentu seperti kamar dan penyesuaian potongan harga (diskon) yang diberikan serta musiman,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BI Jateng-DIY Joni Swastanto mengatakan ada dua kunci dalam mengendalikan inflasi, yakni pasokan harga dan menekan ekspektasi dari masyarakat. “Inflasi bisa kita kendalikan apabila pasokan tercukupi dan ekspektasi bisa dikendalikan,” ujarnya.

Editor: | dalam: Ekonomi |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »