PEMUKULAN
Balas Pukulan Guru, Orangtua Siswa Dipanggil Sekolah

SOLO  – Orangtua yang anaknya memukul salah satu guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Solo pada Jumat (1/3/2013), akhirnya memenuhi panggilan untuk datang di madrasah setempat, Sabtu (2/3/2013). Mereka datang bersama anaknya yang berinisial A, yang juga siswa kelas XI MAN 2 Solo sekitar pukul 10.00 WIB.

Pagi itu, kakak kandung pelaku, Dewi, juga ikut mengantar adik dan kedua orangtuanya ke MAN 2 Solo. Namun, Dewi memilih untuk tidak masuk ke MAN 2 Solo dan menunggu di luar sekolah. Dia mengaku kedatangan orangtuanya ke MAN 2 Solo untuk menyelesaikan kasus pemukulan yang dilakukan oleh adiknya terhadap salah satu guru yang merupakan Wakil Kepala (Waka) MAN 2 Solo, Sugiyono.

“Sebenarnya, ibu saya kemarin [Jumat] sudah datang ke sini [MAN 2 Solo] pukul 14.00 WIB, namun Sabtu ini datang lagi untuk menyelesaikan masalah itu,” jelasnya saat ditemui Solopos.com di depan MAN 2 Solo, Sabtu.

Berdasarkan cerita yang disampaikan A, Dewi menuturkan adiknya dipukul terlebih dahulu oleh Sugiyono di bagian pipi. Pemukulan itu disebabkan karena A dan teman-temannya bermain sepeda onthel yang tidak terpakai di dalam kelas saat jam kosong.
Dewi mengaku tidak tahu kenapa yang dipukul hanya adiknya, padahal saat itu yang bermain sepeda ada beberapa teman A juga. Kemudian A membalas pukulan Sugiyono tepat di bagian wajah hingga berdarah dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit (RS) terdekat.

Menurutnya, A juga mengalami luka lebam di salah satu pipinya dan beberapa goresan kuku di bagian lehernya. “Goresan kuku ada tiga sampai empat di bagian leher, disebabkan karena beberapa tukang bangunan yang ingin melerai perkelahian,” paparnya.

Dewi mengungkapkan adiknya adalah seorang pelatih Taekwondo untuk anak-anak. Namun, dia percaya adiknya tidak pernah menyombongkan dirinya kalau dia seorang atlet beladiri. Dia menyesalkan tindakan Sugiyono yang menggunakan kekerasan fisik meski untuk mengingatkan siswa.

“Meski tegas, kan tidak harus pakai kekerasan. Mending guru itu halus, sehingga  dihormati dan di-ajeni siswa,” ujarnya.

Dia menginginkan kasus itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan mengingat kedua belah pihak juga bersalah. Dia juga berharap kasus itu cukup terjadi kali ini pada adiknya dan tidak ada lagi di masa depan.

Waka Bidang Humas MAN 2 Solo, Dyah Siti Nuraini, enggan berkomentar mengenai adanya kasus pemukulan itu. Dia juga tidak memberikan jawaban saat ditanya kedatangan orangtua A Sabtu pagi ke MAN 2 Solo.

“Saat ini, kami tidak mau memberikan komentar dahulu karena Pak Giyono juga masih sakit,” katanya saat ditemui di MAN 2 Solo, Sabtu.

Sementara itu, Kepala MAN 2 Solo, Agus Hadi Susanto, hingga Sabtu sore belum bisa dihubungi terkait adanya kasus itu.

Editor: | dalam: Solo |

8 Komentar pada “PEMUKULAN: Balas Pukulan Guru, Orangtua Siswa Dipanggil Sekolah”

  1. Mansar Mansawan
    3 Maret 2013 pukul 21:51

    Makanya jadi guru jangan suka ringan tangan ini bukan jaman romusa. Kalau ada murid yang membalas jangan salahkan murid karena ada pepatah : guru kencing berdiri murid kencing berlari.

    • Sakam
      5 April 2013 pukul 20:10

      Guru juga manusia, ketika merasa disepelekan pasti bisa juga emosi. jika anak semacam itu dibiarkan ia akan merasa menang. kalau masih sekolah saja sudah begitu, bisa diperkirakan tamat sekolah jadi preman. lebih baik anak macam itu dikeluarkan dari sekolah, supaya tidak jadi virus.

  2. gibran
    4 Maret 2013 pukul 08:20

    dengan alasan apapun seorang guru tidak boleh menggunakan kekerasan fisik, sekarang sudah gak zamannya. Murid itu untuk dididik tentang budi pekerti dan diajar tentang ilmu pengetahuan. Apapun itu yang salah Wakil kepala sekolah sugijono itu.

  3. Seseorang
    4 Maret 2013 pukul 19:23

    Yth. Penerbit Solopos, menurut saya, sebaiknya dalam menuliskan berita yang dapat ‘merusak nama baik’ suatu institusi jika diterbitkan, mohon ditulis dengan sedikit disembunyikan, misal: seorang guru di salah satu sekolah menengah di kota surakarta.
    Bukankah dengan seperti itu semua pembaca akan lebih nyaman dalam membaca berita?
    Begitu pula anggota institusi yang dimaksud.
    Terimakasih

  4. Harry
    5 Maret 2013 pukul 14:22

    liat dulu kronologinya…masak dolanan sepeda dalam kelas? pasti guru mau negur, tetep ngeyel..seorang guru mukul karena sudah keterlaluan tingkah siswa tsb. tidak ada yang salah dan benar semua SALAH…guru juga bisa marah, tapi kadang guru banyak yang di sudutkan bila ada kejadian di sekolah…prihatin sekali pendidikan qta…(by aktivis/pemerhati pendidikan)

  5. Jamil
    5 Maret 2013 pukul 19:09

    emang paling mudah tu kasih komentar ya .. padahal ngga tau kejadiannya gimana .. Grrr!

    Solopos sialan!

  6. bintang
    6 Maret 2013 pukul 01:23

    murid goblokkk,,,di mn2 tuh kelas tuh buat utk main sepeda…kalo mau main sepeda tuh di lapangan…sdh sma kok kelakuan kayak SD,,,..namanya guru yaa pasti gemes kalo lht anak kelakuan kayak SLB ,,,,,kamu tuh belum lulus …keluarin aja tuh,,,sdh ga ada sopan santunnya,,,

  7. Ludwina
    6 Maret 2013 pukul 12:03

    mbak Dewi gak heran dengan kelakuan adeknya yang berani-beraninya ninju Wakasek sampe masuk RS? saya HERAN kalo anda TIDAK heran.

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris

    No items.

Menarik Juga »