Pagi-pagi sekali, Jon Koplo sudah mengantarkan anaknya, Tom Gembus, ke sekolah. Berhubung masih ada waktu longgar, warga Banjarsari, Solo, ini klintong-klintong ke Pasar Depok untuk hunting ayam buat ingon-ingon.
Singkat cerita, Koplo pulang dengan membawa seekor ayam babon. Sebelum berangkat kerja, ayam babon itu dimasukkan ke kandang. Sayangnya, Koplo lupa menguncinya.
Sepulang sekolah, Tom Gembus mendengar suara ribut-ribut. Ternyata ada seekor ayam babon yang dikejar-kejar Beji, anjing piaraannya. Gembus pun mengusir anjingnya dan menolong ayam yang sudah terluka itu.
“Ini ayam punya siapa ya?’ pikirnya. Ia pun membawanya ke rumah Lady Cempluk, tetangganya yang juga punya ayam.
“Bude, ini ayamnya Bude?” tanya Koplo.
“Wah, bukan, Le. Paling milik Pak Haji,” jawab Cempluk.
“Saya titipkan Bude saja ya, daripada dikejar-kejar anjing.”
“Ya wis kene. Tapi kalau bukan milik Pak Haji tak goreng saja ya. Nanti kamu tak kasih. Kasihan, daripada mati kesakitan,” usul Cempluk.
“Nggih Bude,” jawab Koplo.
Benar saja. Setelah tanya Pak Haji ternyata bukan ayamnya, Cempluk pun mengeksekusi babon itu untuk dijadikan lauk.
Sore hari ketika pulang kerja, Jon Koplo langsung njujug ke kandang ayamnya. Namun betapa kagetnya Koplo karena ayamnya telah hilang.
“Mbus, lihat ayam babon tidak? Tadi padi Bapak beli ayam babon kok enggak ada?” tanya Koplo kepada anaknya.
“Oh, tadi dikejar-kejar si Beji, Pak. Karena enggak ada yang punya, tadi disembelih dan digoreng Bude Cempluk,” jelas Gembus.
Belum hilang rasa kaget Koplo, tiba-tiba Lady Cempluk njedhul, “Mbus, ini ayam gorengnya sudah matang,” katanya.
“Lha itu Pak, ayamnya sudah mateng,” ujar Gembus sajak ngece. Koplo hanya bisa kukur-kukur sirah.
Viddea Yulida Putri, Distrikan RT 005/RW 011 Nusukan, Banjarsari, Solo 57135
Baca Juga:
Editor: Is Ariyanto | Dalam : Ah Tenane |



