Cak Nun Puji Puisi Mustofa

Cak Nun.dokCak Nun.dok

 

Cak Nun.dok

JOGJA-Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) memuji kumpulan puisi karya Mustafa W. Hasyim, dalam bincang-bincang sastra yang digelar Studio Pertunjukan Sastra (SPS) di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (23/2/2013) lalu.

Cak Nun memuji konsistensi Mustafa yang setia dengan gayanya yang unik. Dibawakan melalui olah kata yang menggelitik namun tetap kritis. Mustafa juga terkadang menyelipkan kata-kata dalam bahasa jawa untuk memperkuat emosi dan ekspresi serta menggambarkan suasana yang sulit diungkapkan dalam bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu, kesederhanaan Mustafa menurut Cak Nun bisa memberikan inspirasi bagi para penyair muda yang ingin terjun dan mendalami dunia sastra agar turut mewarnai khasanah sastra Jogja. Menurutnya, Dalam berkarya, Mustafa melakukannya dengan dasar kerendahan hati, bukan mengejar kebesaran nama.

“Inilah yang harus ditiru, berkaryalah dengan hati, jangan berkarya dengan harapan akan mendapat nama besar,” katanya.

Dalam karyanya, Mustafa banyak menyoroti fenomena sosial yang terjadi di lingkungan tempatnya tinggal. Dari pemikiran seniman nyentrik ini, Mustofa telah menghasilkan sekitar 70 judul buku kumpulan puisi karyanya.

Lahir dan besar di Kotagede, Mustafa tumbuh dan berproses dengan mengamati empat instrumen kehidupan yang disampaikannya di hadapan forum.

Menurut Mustafa,  rumah, lorong-lorong kampung, langgar dan pasar telah mempengaruhi proses kreatifnya . Dia menuturkan, inspirasi biasa datang, karena disitulah manusia hidup dan bersosialisasi. Bahkan, menurutnya proses pengamatan dapat memakan waktu yang lama sebelum bisa terserap sebagai inspirasi baru dalam menulis sebuah puisi.

“Saya biasa mengamati selama bertahun-tahun satu jenis kegiatan. Dari situ, ada sesuatu yang masuk ke dalam pikiran dan tertuang menjadi karya puisi,” ungkap Mustofa.

Editor: | dalam: Issue |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »