MOBILISASI PNS BOYOLALI
Pilihan PNS Salah Siap-Siap Dibuang

Ilustrasi PNS BoyolaliIlustrasi PNS Boyolali

Ilustrasi PNS Boyolali

BOYOLALI–Malam itu, hujan baru saja reda. Di aula SMAN 1 Boyolali, ratusan PNS duduk berjajar di sana. Mereka datang untuk memenuhi sepucuk undangan bertema Silaturahmi PNS Kelurahan Pulisen, Sabtu (9/2/2013).

Salah seorang peserta pertemuan kepada JIBI/SOLOPOS menuturkan yang hadir dalam acara itu antara lain Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Sri Ardiningsih, Kepala Dispendukcapil Sugianto, serta sejumlah pejabat dan kerabat Bupati Seno Samodro, Seno Kusumoharjo.

Tak lama setelah acara dimulai, Sri Ardiningsih menyampaikan sambutan. “Panitia tadi telah melaporkan bahwa PNS yang berdomisili di Kelurahan Pulisen luar biasa banyaknya, yakni 607 orang. Ini potensi yang luar biasa,” kata Sri, sebagaimana JIBI/SOLOPOS dengarkan dalam sebuah rekaman.

Waktu terus merambat. Ratusan PNS yang hadir malam itu tiba-tiba mulai riuh begitu Sri mengutarakan sederet pesan di ujung pidatonya. Salah satunya terkait komitmen PNS untuk tetap ikhlas mengabdi kepada masyarakat betapa pun ditugaskan di lokasi yang jauh.

”Pada waktu kita melamar, sudah ada kontrak, siap ditempatkan di mana saja. Betul?” kata Sri retoris.

Sri tak menghentikan pidatonya di situ. Di tengah keriuhan hadirin, Ketua Korpri Boyolali itu balik meminta para PNS agar setia dan loyal kepada kepemimpinan Bupati Seno Samodro demi mengawal visi-misi Bupati 2010-2015.

Salah satunya melalui acara silaturahmi seperti malam itu. “Nanti, akan kita atur kembali. Dengan catatan, panjenengan sudah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Kalau tempat tugasnya jauh sering enggak masuk, malah jadi catatan. Insya Allah kita atur kembali sehingga dapat tempat yang dekat dengan tempat tinggalnya,” kata Sri disambut tepuk tangan hadirin.

Ya, dalam dua bulan terakhir ini, atmosfer di lingkungan PNS Boyolali memang panas-dingin. Penyebabnya, mereka secara bergiliran dikumpulkan di berbagai lokasi, mulai Panti Marhaen [kantor DPC PDIP Boyolali], gedung sekolah, kantor kecamatan hingga kantor kelurahan.

Agendanya ialah mendengarkan ceramah yang mengarah penggalangan dukungan untuk kepemimpinan Bupati. “Tentu saja, isi pidatonya tak langsung meminta para PNS mendukung partainya Bupati. Tapi, dengan bahasa sindiran, misalnya kalau pilihanmu benar dapat endhog [telur]. Tapi, kalau pilihanmu salah, ya dapat ula [ular]. Artinya, siap-siap [dibuang] 50 km,” kata sumber Espos yang hadir pada malam itu.

Lowongan Kerja
Accounting dan Admin PT. Sarang Bakery, informasi selengkapnya

KLIK DISINI

Editor: | dalam: Boyolali |

11 Komentar pada “MOBILISASI PNS BOYOLALI: Pilihan PNS Salah Siap-Siap Dibuang”

  1. Dodi
    18 Februari 2013 pukul 08:11

    hahaahaa. Kalo di Rembang lebih ngenes. Duit gaji PNS dipotong duitnya dimakan sama dengan Bupati Salim

  2. doni
    18 Februari 2013 pukul 11:02

    koq kepemimpinane koyo ngono tho. ora nyontoni sing apik. untung dudu pns boyolali. amit2, ndang lengsero bupati koyo ngono kuwi.

  3. Dodi
    18 Februari 2013 pukul 16:27

    Waduh komentarku tadi gak dimuat, yang ini malah dimuat. Solopos solopos..

  4. kami
    18 Februari 2013 pukul 16:38

    pada gak berani kalau satu2.seharusnya yang gerah bersatu melawan yang tdk benar.
    jadi bupati kok kayak gitu, pada akhirnya akan dapat balasan dari Tuhan.lihat saja.

    • Kusumo
      18 Februari 2013 pukul 16:56

      Ojo nggambleh

      • Dodi
        20 Februari 2013 pukul 08:43

        Bupati Seno Samodro adalah orang dusun terpencil di Boyolali yang pernah kuliah di Kamboja jurusan Sastra Madura. Sangat Pantes menjadi pemimpin daerah tertinggal seperti Kabupaten Boyolali.

    • widhi
      20 Februari 2013 pukul 10:41

      salah siapa,ini salah siapa…dosa siapa,ini dosa siapa……berguru pada gaya orde baru.

  5. Matgoweng
    18 Februari 2013 pukul 16:51

    Cara cara diktator utk nutupi korupsi… Kapan majune kab ini

  6. Prima
    18 Februari 2013 pukul 18:17

    Di boyolali gara2 ada masalah dengan tim sukses bupati saja bisa dipindah, apakah alasan pemindahan seperti itu bisa dibenarkan???

  7. Johan
    20 Februari 2013 pukul 07:28

    Bupati apakah sama dengan Buka Paha Tinggi-tinggi? Kalau sekda = sekitar wilayah dada.

  8. Lurah selo
    23 Februari 2013 pukul 17:12

    Sabar….

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Menarik Juga »