Polres Klaten Kumpulkan Pengusaha Warnet dan Game Online

Suasana pembinaan dan penyuluhan pengusaha warnet dan game online di Aula Mapolres Klaten, Selasa (12/2). (Moh Khodiq Duhri/JIBI/SOLOPOS) Suasana pembinaan dan penyuluhan pengusaha warnet dan game online di Aula Mapolres Klaten, Selasa (12/2). (Moh Khodiq Duhri/JIBI/SOLOPOS)


Suasana pembinaan dan penyuluhan pengusaha warnet dan game online di Aula Mapolres Klaten, Selasa (12/2). (Moh Khodiq Duhri/JIBI/SOLOPOS)

KLATEN–Sekitar 200 pengusaha warung internet (warnet) dan game online yang tersebar di Klaten dikumpulkan di Aula Mapolres Klaten, Selasa (12/2/2013).

Kapolres Klaten, AKBP Y Ragil Heru Susetyo, dalam sambutannya mengatakan pelanggaran asusila pada remaja memang bukan semata dampak dari menjamurnya warnet dan game online. Di menjelaskan, di Jakarta, pelanggaran asusila malah banyak terjadi di sarana angkutan kota maupun bus. Akan tetapi, di Klaten, pihaknya menemukan pelanggaran asusila pelajar di sebuah bilik warnet.

“Saat kami menggelar razia beberapa waktu lalu, anggota kami menemukan pasangan muda-mudi yang buka-bukaan [pakaian] di dalam bilik warnet. Ternyata bilik itu sangat tertutup sehingga bisa menimbulkan peluang bagi pasangan muda-mudi melakukan perbuatan yang mengarah pelanggaran asusila,” ungkap Ragil.

Pelajar SD

Ragil menambahkan, belum lama ini pihaknya mengamankan seorang pelajar kelas VI SD yang berusia 12 tahun setelah kedapatan mencuri sejumlah uang. Setelah diinterogasi, uang curian itu rencananya akan digunakan untuk bermain game online dan warnet. Bahkan, sisa uang curian itu rencananya akan digunakan untuk mendatangi tempat prostitusi di kawasan Pasar Kembang (Sarkem) Jogja.

“Masa depan anak itu masih panjang. Sangat ironis dan memprihatinkan di usianya yang masih mudah sudah terlibat kenakalan remaja.”

Ragil berharap pengusaha warnet dan game online tidak sekadar mementingkan aspek ekonomi semata. Dia mengajak pengusaha ikut memikirkan penanggulangan terhadap kenakalan remaja atau pelanggaran asusila.  “Warnet dan game online sudah menjamur. Keberadaannya bisa menjadi candu bagi pelajar,” ucap Ragil.

Kepala Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Klaten, Surti Hartini, dalam kesempatan itu menyampaikan keberdaan warnet dan game online mulai menjamur di Klaten pada 2010 dan 2011 lalu. Hingga kini terdapat sekitar 200 warnet dan game online yang tersebar di Klaten. Kendati demikian, hanya 25% warnet dan game online yang sudah mengantongi izin.

“Tahun ini baru ada tiga pengusaha yang mengajukan izin pendirian warnet. Totalnya baru ada sekitar 40 warnet dan game online yang sudah berizin. Jadi lebih banyak yang belum berizin daripada yang sudah berizin,” ungkap Surti.

Editor: | dalam: Klaten |

3 Komentar pada “Polres Klaten Kumpulkan Pengusaha Warnet dan Game Online”

  1. elok
    12 Februari 2013 pukul 12:12

    Klo banyak mudhorot tutup saja Pak. Supaya tidak dapat dosanya!
    Pelajar mbolos,
    pelajar menyalahgunakan uang saku/SPP
    pelajar buang waktu
    pelajar jauh dari masjid,
    masa depan jelas suram klo malaaaaaaaaaaaaas belajar

    • gotek
      16 Februari 2013 pukul 12:41

      elok katrok banget seh…..

  2. cah klaten
    13 Februari 2013 pukul 08:32

    masalah yang utama adalah moral dari orang itu sendiri sebagai pengguna warnet, banyak hal positif dari warnet, mencari tugas sekolah, ngeprint, pengetikan, scan, dll.

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris
  • RUMAH DIKONTRAKKAN

    Rumah Dikontrakkan,LT 254M2,LB 225M2,7Kmr,3K Mandi, Garasi, Jl.Kencur No.48, Rt 03/11, Kag…

Menarik Juga »