Pengunjung harus melintasi jalan setapak untuk mencapai air terjun bertingkat sembilan di Dusun Melati, Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri. Namun perjalanan sejauh sekitar 1 km untuk mencapai air terjun itu akan disejukkan dengan pemandangan persawahan dan udara yang segar. (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)
Senin, 11 Februari 2013 12:48 WIB Ayu Abriyani KP/JIBI/SOLOPOS Travel Share :

Curug Sembilan di Selogiri, Indahnya Air Terjun 9 Tingkat

Salah satu air terjun di Dusun Melati, Desa keloran, Selogiri, Wonogiri, yang merupakan bagian dari sembilan tingkat air terjun. (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)

Wilayah Dusun Melati, Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, ternyata menyimpan pesona objek wisata alam yang luar biasa yaitu air terjun. Yang membuat tempat ini istimewa dan layak dikunjungi adalah karena air terjun yang ada di situ memiliki sembilan tingkat.

Untuk mencapai air terjun tersebut, pengunjung yang menggunakan kendaraan bermotor harus parkir cukup jauh dari lokasi. Parkirnya bisa di halaman rumah penduduk. Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki di jalan setapak kurang lebih 1 km jauhnya. Tapi perjalanan itu tak terasa melelahkan karena selama itu pengunjung bisa sepuasnya menikmati pemandangan alam berupa hamparan sawah di satu sisi dan sungai kecil yang airnya sangat jernih di sisi lainnya.

Sekitar 250 meter sebelum sampai tujuan, pemandangannya mulai terlihat berbeda. Di salah satu sisi ada tebing setinggi lebih dari tiga meter dan di sisi lainnya ada jurang sedalam lebih dari lima meter, dengan sungai berbatu di dasarnya.
Aliran air yang deras terdengar cukup keras menembus pepohonan. Sepuluh menit kemudian, baru air terjun itu tercapai.

Di bagian paling bawah itu, mengalir air yang sangat jernih dan sejuk, membuat beberapa pengunjung berhenti untuk merendam kaki yang lelah sehabis berjalan kaki selama hampir 45 menit. Naik ke tingkat berikutnya, ada semacam kolam alami untuk anak-anak yang ingin bermain air.

Menuju ke air terjun selanjutnya, tantangan mulai mengadang. Pengunjung harus berjalan merambat di tebing berbatu. Rupanya warga maupun pemerintah kecamatan setempat belum membuatkan akses yang lebih memadai di bagian itu. Maklum, air terjun itu memang belum lama dibuka dan dipromosikan secara luas.

Sebelumnya, lokasi itu hanya diketahui warga sekitar. Mereka yang berkunjung biasanya karena ingin melihat salah satu dari sembilan air terjun tersebut yang dinamakan Kedung Turuk. Nama Turuk tersebut dalam bahasa Jawa berarti alat kelamin perempuan karena bebatuan di tebing yang dilewati air terjun itu konon dipercaya mirip alat kelamin perempuan. Air terjun itu ada di tingkat ke lima. Air terjun lainnya dinamai, Banyu Anjlok, Kedung Bandang, Kedung Bunder, Jurang Gandil, Kali Tangan dan Kali Telu.

Pengunjung harus melintasi jalan setapak untuk mencapai air terjun bertingkat sembilan di Dusun Melati, Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri. Namun perjalanan sejauh sekitar 1 km untuk mencapai air terjun itu akan disejukkan dengan pemandangan persawahan dan udara yang segar. (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)

Camat Selogiri, Bambang Haryanto, berencana mengembangkan air terjun itu menjadi objek wisata untuk menambah pendapatan desa. “Ini merupakan potensi yang sayang untuk dilewatkan. Saat ini, sudah ada beberapa warga yang membuka warung di dekat lokasi air terjun. Jika ini bisa dikembangkan, maka kehidupan ekonomi warga sekitar juga ikut meningkat,” katanya kepada Solopos.com akhir pekan lalu.

Pihaknya juga berencana mengenalkan air terjun tersebut dengan nama Curug Sembilan. Usulan itu mencuat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) Selogiri, belum lama ini. Namun demikian, masih banyak pekerjaan rumah menanti untuk pengembangan objek wisata itu. Di antaranya memperbaiki akses menuju lokasi. “Kami sudah berembuk untuk mengembangkan secara bertahap dengan dana dari beberapa sumber. Seperti DAD [dana alokasi desa], pihak ketiga dan swadaya masyarakat. Sementara ini, kami ingin memperkokoh jalan setapak agar tidak longsor. Biayanya sekitar Rp70 juta,” kata Bambang.

Belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain seperti toilet dan tempat untuk pengunjung bisa duduk-duduk istirahat sambil menikmati pemandangan. Kepala Desa Keloran, Maryanto, sudah merencanakan membangun beberapa gazebo, tempat ibadah dan MCK. “Saat hari libur atau Minggu, jumlah pengunjung sudah cukup banyak. Dalam satu hari bisa mencapai 100 orang. Kalau Senin hingga Jumat, jumlah pengunjung berjumlah belasan,” katanya.

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…