GAGASAN
Patgulipat Bekas RSBI

FX Triyas Hadi Prihantoro, Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef SoloFX Triyas Hadi Prihantoro, Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo

SOLOPOS edisi Senin (14/1/2012) secara gamblang memberitakan pengelola sekolah negeri berstatus bekas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kota Solo tidak sepakat penghapusan pungutan dari orangtua siswa.

Penolakan itu dengan berbagai argumentasi dan alasan yang sifatnya patgulipat sebagai pembenaran belaka, bukan alasan substansial. Mereka menyatakan tetap butuh sumbangan dari orangtua siswa dengan alasan operasional sekolah membutuhkan biaya tinggi berkenaan dengan berbagai fasilitas yang ada.

Alasan ini sebenarnya tak masuk akal. Alasan ini hanya berdampak tetap berlakunya diskriminasi karena hanya orang kaya yang bisa menyekolahkan anak mereka di sekolah bekas RSBI itu. Pelarangan pungutan biaya dari orangtua siswa sekolah bekas RSBI merupakan langkah teknis mutlak mengikuti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan RSBI tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Putusan MK menyatakan RSBI adalah wujud mengabaikan tanggung jawab negara untuk menyediakan pendidikan berkualitas bagi semua warga negara. Dalam pandangan MK, pemerintah telah memberikan perlakuan yang berbeda antara sekolah RSBI/SBI dan sekolah reguler, baik dari segi sarana dan prasarana, anggaran, kesempatan dan proses penerimaan siswa baru, maupun lulusan.

Izin bagi sekolah berstatus RSBI/SBI memungut biaya dari orangtua siswa—yang mahal itu–menunjukkan sekolah berstatus RSBI hanya bisa dinikmati  siswa anak orang kaya. MK menilai pemerintah menghalangi akses semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Eksistensi RSBI/SBI menimbulkan dualisme sistem pendidikan dan berdampak berkembangnya liberalisasi pendidikan dan  menimbulkan diskriminasi pendidikan. Penggunaan bahasa asing sebagai pengantar juga berpotensi menghilangkan jati diri bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar wajib di RSBI/SBI bertentangan dengan UU No 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan.

Bila pemerintah ”merestui” sekolah bekas RSBI boleh menjalankan aktivitas sebagaimana ketika masih berstatus RSBI—terutama memungut biaya dari orangtua siswa—berarti pemerintah belum konsisten dengan kewajiban menyediakan pendidikan berkualitas yang dapat diakses semua warga negara.

Ini juga membuktikan ketidaksetaraan perlakuan, padahal pemerintah selalu menutut kualitas/mutu sekolah sebaik-baiknya. Pemerintah jelas melakukan diskriminasi, membedakan perlakuan antara sekolah reguler dan sekolah bekas RSBI yang berarti melestarukan ketidaksetaraan sekolah negeri.

 

Sekolah Top

 

Ironisnya saat legalitas pemerataan dan penyetaraan pendidikan untuk semua itu ditetapkan oleh MK dengan penghapusan RSBI, upaya patgulipat gencar diwacanakan oleh Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud ). Wacana itu  berupa alokasi anggaran untuk bekas RSBI yang akan dibelanjakan untuk membentuk sekolah unggulan serta sistem baru sekolah kategori mandiri (SKM).

Sebagaimana diberitakan SOLOPOS, Mendikbud Muhammad Nuh dalam pertemuan dengan Ketua MK, Mahfud MD, menyitir bunyi Pasal 50 ayat (3) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menyatakan pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Mendikbud menyatakan keputusan MK tentang pembubaran RSBI memang sudah diputuskan, tetapi sebagai bagian dari diskursus intelektual, menurut Mendikbud, putusan itu harus diuji. Mendikbud berkata,”Masak punya sekolah top enggak boleh, gimana ta? ”. Ungkapan Mendikbud ini layak diwaspadai sebagai patgulipat melestarikan sistem RSBI di sekolah-sekolah bekas RSBI. Upaya patgulipat itu 1.001 jalannya. Ini yang harus kita waspadai bersama.

Perbandingan kompetensi dan kualitas sekolah berstatus RSBI dengan sekolah reguler sudah terbukti. Di Kota Solo, sekolah berstatus RSBI yang diharapkan dan diharuskan mampu meluluskan siswa sesuai tuntutan yang tinggi (sebelum UN 2011) ternyata tidak demikian. Begitu pula dalam dua tahun terakhir (2011, 2012). Nilai rata-rata tertinggi UN SMA justru dipegang oleh sekolah regular. Rentang standar deviasi (simpangan baku) nilai UN dan nilai sekolah yang ideal juga dipegang oleh sekolah reguler.

Beberapa tahun terakhir ini ada anggapan bahwa sekolah regular dianggap nomor dua. Ini terlihat dalam penerimaan siswa baru (PSB) di sekolah berstatus RSBI yang diberi kesempatan untuk ”menjaring” siswa berkualitas secara intelektual maupun material lebih dahulu. Padahal,  label RSBI/SBI belum tentu membuktikan kemampuan sekolah secara akademis untuk menjadi yang terbaik di wilayah kabupaten/kota.

Yang menonjol dari sekolah berstatus RSBI hanya kemewahan dan kemegahan material yang kemudian memunculkan jurang pemisah dengan sekolah reguler—tapi bukan jurang pemisah kualitas pengajaran dan mutu lulusan. Sekolah berstatus RSBI berbiaya operasional tinggi karena setiap ruang ber-AC, guru yang dikabarkan berkualitas tinggi dengan sederet gelar akademis serta kegiatan pendidikan di dalam kelas atau luar kelas yang menuntut biaya tinggi.

 

Pemujaan Semu

 

Inilah yang kemudian dijadikan alasan sebagian pengelola sekolah bekas RSBI di Kota Solo—dan mungkin juga di daerah lain—untuk tetap menjalankan kegiatan sebagaimana ketiak masih berstatus RSBI, termasuk tetap memungut biaya—mahal—dari orangtua siswa. Sesungguhnya itu semua merupakan pemujaan ”semu” dengan mengesampingkan hakikat pendidikan untuk semua orang tanpa diskriminasi.

Itu semua adalah buah hedonisme di dunia pendidikan. Ide, pemikiran, pendapat dan keinginan untuk tetap mempertahankan sistem yang dijalankan ketika masih berstatus RSBI di sekolahj bekas RSBI adalah kesombongan pengelola dan kalangan masyarakat tertentu—pendukung RSBI–tanpa diimbangi dengan kualitas yang ideal.

Keangkuhan sekolah berstatus RSBI/SBI secara umum sangat dirasakan oleh masyarakat miskin. Banyak calon siswa dari kalangan keluarga miskin yang secara intelektual berkemampuan tinggi tapi tak bisa mengakses pendidikan “wah” di RSBI—dan mungkin juga di bekas RSBI yang tak mau menghentikan kegiatan berciri-ciri RSBI. Mereka akan tetap tersingkir dari sekolah bermutu yang membatasi diri sebagai sekolah elitis karena hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya.

Sikap ngotot bahkan patgulipat utnuk melanggengkan penyelenggaraan sekolah yang melanggar UU terutama melanggar kewajiban menjamin terselenggaranya pendidikan yang setara dan seimbang adalah pengkhianatan terhadap gembar-gembor tentang pendidikan gratis dan murah.

Upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas, setara dan terbuka untuk semua akan tampak nyata saat semua sekolah memiliki hak dan kewajiban yang sama dan pemerintah mematuhi amanat UUD 1945 untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan setara bagi semua warga bangsa. Dan ini hanya bisa dicapai dengan mengilangkan sikap, pendapat, kebijakan dan tindakan patgulipat demi mempertahankan hegemoni label internasional di sekolah bekas RSBI.

Editor: | dalam: Kolom |
Iklan Cespleng
  • Jual BRIO E

    Jual BRIO E Matic tahun 2013, Kilometer:6Ribu, Nyaris Baru Hubungi:081.2265.0567…

  • Dijual FREED PSD

    Dijual FREED PSD tahun 2010, plat AD, AC Digital Hitam, Atas nama Dokter, Kilo Meter:50Rib…

  • Dijual ALPHARD S Premium Sound

    Dijual ALPHARD S Premium Sound tahun 2010, plat AD, warna Hitam, Kilometer 5Ribu, 100% Nya…

  • Dijual CARY 1.0

    Dijual CARY 1.0 ADI PUTRO tahun 1995, warna Silver, Pajak Baru, AC, Audio, harga Rp37.000.

  • Butuh segera Apoteker

    Butuh segera Apoteker. Hubungi Apotik Anugrah Putra. Jl. Prof Suharso 21b Jajar…

  • TIARA ASRI Kts T55/105 Cluster

    TIARA ASRI Kts T55/105 Cluster, harga Rp450.000.000 Nego, Bisa KPR. Hubungi:085728973376…

  • Dijual TARUNA CSX

    Dijual TARUNA CSX, tahun 2001, plat AD, Pemakai, kondisi terawat, harga Rp88.000.000/Nego.

  • Dijual JAZZ RS

    Dijual JAZZ RS Automatic Transmission& S Manual tahun 2011&2013, plat AD KiloMet…

  • Dijual TOYOTA FT

    Dijual TOYOTA FT tahun 1986 Sport’13 Triptonik Putih Bln2, plat AD asli, Kilometer 2…

  • Dijual MAZDA BIANTE

    Dijual MAZDA BIANTE tahun 2013/2014, plat AD, Tangan pertama, Kilometer:6Ribu, Nyaris Baru…

  • Jual RUMAH, Luas:200/144

    Jual RUMAH, Luas:200/144 Minimalis, Lokasi Solo. harga Rp530.000.000/Nego. Hubungi:7096216…

  • DICARI AGEN Pemasaran Es Krim

    DICARI AGEN Pemasaran Es Krim, Sasaran Kantin Sekolah&Warung Kecil.(Ecer Rp 1000)Ada…

  • PAJERO SPORT

    PAJERO SPORT Exceed tahun 2013 Bulan.8, warna Abu-Tua Metalic, plat AD KiloMeter5Rb 100%.7…

  • Dijual CRV MATIC

    Dijual CRV MATIC tahun 2002, plat AD Asli, Juara, Buktikan Tiada 2Nya, harga Rp111.000.000…

  • Dijual FORTUNER P Turbo

    Dijual FORTUNER P Turbo tahun 2013 Matic, warna Putih, Seperti Baru, Hubungi:081.2265.0567…

  • Dijual ALL NEW Picanto

    Dijual ALL NEW Picanto tahun 2012, warna Hitam& Abu-abu, KiloMeter 14Ribu, 100% Seper…

  • Dijual ALL NEW Accord

    Dijual ALL NEW Accord tahun 2011, warna Silver, Kilometer 33Ribu, Seperti Baru Hubungi:081…

  • Dijual JAZZ RS

    Dijual JAZZ RS tahun 2009 Matic, warna Kuning, plat AD, Tangan pertama, Seperti Baru. Hubu…

  • Butuh uang cepat

    Butuh uang cepat. Dijual Rumah Samping Masjid Joho Sukoharjo, Dekat Sritex, Kecamatan, Srt…

  • ALL NEW Civic

    ALL NEW Civic Manual tahun 2013 Bulan 6, warna Putih, plat AD Asli, Kilometer 8 ribu 100%.

Menarik Juga »