Calon TKI Asal Sragen Diimbau Tak Ke Malaysia

Ilustrasi (Agoes Rudianto/JIBI/SOLOPOS)Ilustrasi (Agoes Rudianto/JIBI/SOLOPOS)

SRAGEN–Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sragen, Tasripin, mengarahkan calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Sragen bekerja ke beberapa negara maju di Asia seperti Taiwan, Hongkong, Korea Selatan dan Jepang ketimbang Malaysia maupun Arab Saudi.

Tasripin mengatakan langkah itu diambil dalam upaya mengurangi angka kekerasan kepada TKI yang bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga maupun pekerjaan lain.

Dia menjelaskan TKI yang bekerja di beberapa negara maju di Asia itu hampir tidak pernah mengalami kekerasan fisik maupun mental dari majikan ataupun atasan. Berbeda dengan TKI yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi. Tasripin menuturkan selalu menyarankan hal itu kepada calon TKI yang datang ke kantor Disnakertrans Kabupaten Sragen untuk berkonsultasi dan mencari informasi lowongan kerja di luar negeri.

Data yang dihimpun Solopos.com dari kantor Disnakertrans Kabupaten Sragen menyebutkan TKI yang bekerja ke Taiwan, Korea Selatan dan Jepang mengalami peningkatan tahun 2012. Peningkatan berkisar antara 100-200 persen dibanding tahun 2011. Hal berbeda terjadi pada TKI yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi tahun 2012. TKI yang berangkat ke Malaysia mengalami peningkatan kurang dari 25 persen dibanding tahun 2011.

“Kami selalu menyarankan calon TKI tidak bekerja di Malaysia dan Arab Saudi. Terlebih Indonesia sudah memberlakukan moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi sejak 2012. Lebih bagus bekerja ke negara maju, seperti Jepang, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan. Tujuan kami mengurangi angka kekerasan terhadap TKI. Tetapi semua kembali ke masing-masing orang,” kata dia saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, akhir pekan kemarin.

Pelatihan

Tasripin tidak menampik apabila masih ada calon TKI yang berminat mengadu nasib ke Malaysia. Oleh karena itu, dia selalu mengimbau calon TKI meningkatkan ketrampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di luar negeri. Calon TKI dapat memanfaatkan balai-balai pelatihan tenaga kerja yang disediakan pemerintah untuk meningkatkan mental dan ketrampilan sesuai kebutuhan masing-masing negara.

Pelatihan kerja harus dilakukan supaya calon TKI dapat memenuhi kebutuhan yang diminta masing-masing negara. Hal itu karena karakteristik dan kebutuhan tenaga kerja di masing-masing negara berbeda.

“Banyak balai pelatihan tenaga kerja tetapi yang serius melatih calon TKI sedikit. Calon TKI harus bijak memilih. Jangan hanya instan dan cepat berangkat tetapi pengalaman dan keahlian nihil. Minim pengalaman dan ketrampilan memicu TKI mendapat perlakukan keras dan kasar dari majikan,” imbuh dia.

Data lain menyebutkan TKI yang bekerja ke luar negeri tahun 2012 sebanyak 813 orang. Jumlah itu meningkat sebanyak 296 orang dibanding tahun 2011. Tasripin memprediksi calon TKI yang akan berangkat ke luar negeri tidak mengalami banyak peningkatan tahun 2013.

Alasan yang dia kemukakan adalah kejadian yang menimpa beberapa TKI asal Sragen hingga menyebabkan kematian selama beberapa tahun terakhir diduga mempengaruhi minat calon TKI. Meski diakui kasus yang menyebabkan kematian TKI asal Sragen tak terlampau banyak.

“Masih banyak yang berminat bekerja di luar negeri karena mencari pekerjaan di dalam negeri susah. Pengangguran banyak karena lapangan kerja di dalam negeri terbatas. Kami selalu menyarankan calon TKI yang mencari pekerjaan melalui kantor Disnakertrans untuk selektif memilih pekerjaan,” tutur dia.

Editor: | dalam: Sragen |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »