Selasa, 18 Desember 2012 04:38 WIB Ika Yuniati/JIBI/SOLOPOS Issue Share :

Sinta Obong Keliling Asia

SOLO — Kisah cinta antara Rama dan Sinta dalam sekuel Sinta obong bakal dipentaskan keliling Asia oleh tiga koreografer lintas negara. Adegan ketika Sinta menyeburkan ke dalam kobaran api untuk membuktikan kesuciannya kepada Rama itu akan divisualisasikan dalam bentuk tarian kontemporer oleh ketiganya.

Ketiga koreografer tersebut adalah Eko Supriyanto dari Indonesia, Sophiline Saphiro Kamboja dan Pichet Kunclun asal Thailand.

Ketiga koreografer muda itu  akan membawakan konsep pementasan berbeda dengan tema umum Sinta obong ke negara  Kamboja, Vietnam, Thailand dan Indonesia. Pentas akan diawali pada 26 Januari mendatang di Kamboja dan berakhir sekitar pertengahan Februari di Indonesia yang mengambil lokasi  pentas di Solo dan Jakarta.

Proses pementasan yang  didukung penuh oleh Kute Institut itu sebenarnya sudah dimulai sejak 2010 lalu. Pada 2010 tiga koreografer tersebut bertemu untuk mengadakan sebuah diskusi tari di Kamboja. Kegiatan berlanjut pada 2011 hingga akhirnya dibuat pentas produksi di tiga negara Asia pada 2012 ini. Saat pentas nanti masing-masing koreografer diberi kesempatan pentas 30 menit dengan konsep yang berbeda. “Sebenarnya semua bermula pada diskusi tari pada 2010 lalu hingga akhirnya pentas produksi 2013 nanti,” tegas Eko Suoriyanto, saat ditemui Solopos.com, di Wisma Seni Solo, Senin (17/12/2012).

Eko Supriyanto atau yang biasa disapa Eko PC ini akan membawakan pentas tari bertajuk Fire, Fire, Fire. Fire, Fire, Fire,diambil dari kisah pembakaran diri Sinta atas nama cintanya kepada Rama. Namun, meski berpatok pada cerita Ramayana, pentasnya nanti bakal jauh dari visualisasi tradisional.

Kisah Sinta obong hanya dijadikan Eko sebagai inspirasi gerakan. Sementara, ekseskusi tariannya lebih banyak memainkan gerakan-gerakan kontemporer.

“Masih ada sentuhan tradisinya. Tapi memang ketika seseorang melihat pentas saya sama sekali enggak ada cerita Ramayana nya. Semua murni kontemporer,” tambah Eko.

Tak hanya gerakan, kostum dan musik pengiring tarian Fire, Fire, Fire itu juga tak ada hubungannya dengan bentuk tradisional secara visual. Musik pengiringnya dibuat oleh seorang komposer asal Jepang dan Jerman yang memadupadankan musik-musik modern. Sementara,  kostum yang akan dikenakan lebih fleksibel dengan komposisi warna-warna pastel.

“Saya menginterpretasikan tarian Fire, Fire, Fire sebagai bentuk pesan gender yang diilhami dari cerita Sinta obong. Sementara untuk gerakan kami memainkan bentuk spiral dan memang secara visual jauh dari kesan tradisional,” tukasnya.

lowongan kerja
lowongan kerja PT. Merapi Arsita Graha, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Iklan Baris
  • XENIA Li’2007

    XENIA Li’2007 Silver VR AC TP Msn Bd PjkBr Istw 82Jt085100051511…

  • CITY Vtex’2000

    HONDA CITY Vtex’2000 Merah VR AC TP MsnBdy Ist64Jt085100051511…

  • Lowongan Pengasuh Bayi

    BUKAN PENYALUR,Diutamakn Dr Daerah,Putri Max30th,Pengasuh Bayi Cewek 1Th Lbh&Kbersihan,Wjb TdrDlm DiSolo…

  • KARIMUN GX’2005

    KARIMUN GX’2005 Htm,M/T,AD-Solo,PjkBr(70),LsgPkai:087735002228…

  • INNOVA G’2007

    INNOVA G’2007 Euro FulAudio VR Msn Bd Istw AD 132JtNg085100051511…

  • INNOVA G’2007

    INNOVA G’2007 Euro FulAudio VR Msn Bd Istw AD 132JtNg085100051511…

  • L300 PU’2008

    L300 PU’2008 Hitam,Pjk Gres,AD-Solo(80Jt Saja)Siap Kerja:784148…

  • Lowongan Sopir,Serabutan &ADM

    PENYALUR VARIASI Mobil Smrg Cr Kryw:Mau Krj,Bs Diprcaya,Sopir:SMA,SIMA 25-35Th,Srbtn:Pria SMA SIM C,2-25Th,Adm…

Leave a Reply



refresh

Kolom

GAGASAN
Plus Minus Siaran Langsung Kasus Ahok

Gagasan Solopos, Senin (19/12/2016),  Algooth Putranto. Pengajar Ilmu Komunikasi, pernah menjadi analis di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Solopos.com, SOLO — Kasus dugaan penistaan agama (blasphemy) di Indonesia bukan hal yang baru. Delik usang ini sama tuanya dengan sejarah eksistensi…