Sinta Obong Keliling Asia

SOLO — Kisah cinta antara Rama dan Sinta dalam sekuel Sinta obong bakal dipentaskan keliling Asia oleh tiga koreografer lintas negara. Adegan ketika Sinta menyeburkan ke dalam kobaran api untuk membuktikan kesuciannya kepada Rama itu akan divisualisasikan dalam bentuk tarian kontemporer oleh ketiganya.

Ketiga koreografer tersebut adalah Eko Supriyanto dari Indonesia, Sophiline Saphiro Kamboja dan Pichet Kunclun asal Thailand.

Ketiga koreografer muda itu  akan membawakan konsep pementasan berbeda dengan tema umum Sinta obong ke negara  Kamboja, Vietnam, Thailand dan Indonesia. Pentas akan diawali pada 26 Januari mendatang di Kamboja dan berakhir sekitar pertengahan Februari di Indonesia yang mengambil lokasi  pentas di Solo dan Jakarta.

Proses pementasan yang  didukung penuh oleh Kute Institut itu sebenarnya sudah dimulai sejak 2010 lalu. Pada 2010 tiga koreografer tersebut bertemu untuk mengadakan sebuah diskusi tari di Kamboja. Kegiatan berlanjut pada 2011 hingga akhirnya dibuat pentas produksi di tiga negara Asia pada 2012 ini. Saat pentas nanti masing-masing koreografer diberi kesempatan pentas 30 menit dengan konsep yang berbeda. “Sebenarnya semua bermula pada diskusi tari pada 2010 lalu hingga akhirnya pentas produksi 2013 nanti,” tegas Eko Suoriyanto, saat ditemui Solopos.com, di Wisma Seni Solo, Senin (17/12/2012).

Eko Supriyanto atau yang biasa disapa Eko PC ini akan membawakan pentas tari bertajuk Fire, Fire, Fire. Fire, Fire, Fire,diambil dari kisah pembakaran diri Sinta atas nama cintanya kepada Rama. Namun, meski berpatok pada cerita Ramayana, pentasnya nanti bakal jauh dari visualisasi tradisional.

Kisah Sinta obong hanya dijadikan Eko sebagai inspirasi gerakan. Sementara, ekseskusi tariannya lebih banyak memainkan gerakan-gerakan kontemporer.

“Masih ada sentuhan tradisinya. Tapi memang ketika seseorang melihat pentas saya sama sekali enggak ada cerita Ramayana nya. Semua murni kontemporer,” tambah Eko.

Tak hanya gerakan, kostum dan musik pengiring tarian Fire, Fire, Fire itu juga tak ada hubungannya dengan bentuk tradisional secara visual. Musik pengiringnya dibuat oleh seorang komposer asal Jepang dan Jerman yang memadupadankan musik-musik modern. Sementara,  kostum yang akan dikenakan lebih fleksibel dengan komposisi warna-warna pastel.

“Saya menginterpretasikan tarian Fire, Fire, Fire sebagai bentuk pesan gender yang diilhami dari cerita Sinta obong. Sementara untuk gerakan kami memainkan bentuk spiral dan memang secara visual jauh dari kesan tradisional,” tukasnya.

Editor: | dalam: Issue |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »