GAGASAN
Air Cokro Tulung untuk Tetulung

Heri Priyatmoko
Kolumnis Solo Tempo Doeloe
Mahasiswa Pascasarjana Sejarah, FIB, UGM. (FOTO/Istimewa)Heri Priyatmoko Kolumnis Solo Tempo Doeloe Mahasiswa Pascasarjana Sejarah, FIB, UGM. (FOTO/Istimewa)

Dalam rentang panjang sejarah, Surakarta terekam sebagai kawasan yang tidak pernah kekurangan air, namun malah kelebihan. Air merupakan masalah terbesar dan tertua di Kota Solo. Bahkan, sejarawan Kuntowijoyo menyatakan: hampir dipastikan, selama mangsa rendeng masyarakat Surakarta tidak mungkin bersembunyi dari amukan Sungai Pepe dan Sungai Bengawan Solo. Air dari sungai legendaris itu merangsek masuk kota sebanyak 2.000 kubik per detik. Solo berubah menjadi kolam adalah pemandangan yang lumrah selama berhari-hari. Pembesar Belanda dan pemerintah kerajaan pun meributkan masalah kelebihan air yang membuahkan bencana banjir tersebut.

Sekarang, masalah air kembali mengemuka. Bukan kelebihan air yang diperbincangkan, melainkan sumber air Cokro Tulung yang jadi bahan perseteruan antara Bupati Klaten Sunarna dengan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo. Kedua nahkoda ini sama-sama mempertahankan argumentasinya. Titik tengah belum jua terlihat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang potensial menjadi mediator nampaknya condong untuk angkat tangan. Dari kepingan masalah ini, kita sadar bahwa integrasi konsep Soloraya sebenarnya lemah [kalau tidak boleh disebut rapuh]. Klaim kepemilikan lebih dominan ketimbang mengedepankan semangat berbagi.

 

Umbul

Problem krusial tersebut kian benderang bila dikupas dengan sudut pandang historis-antropologis. Air merupakan unsur terpenting di muka bumi ini selain tanah, api dan angin. ”Air adalah yang terbaik dari segalanya,” ujar Pindar, seorang filosof Yunani abad ke-5. Di Kota Bengawan diktum tersebut tidak berlebihan, umbul Cokro Tulung telah memungkinkan jaringan konsumen air bersih di Soloraya hidup hampir seabad. Menurut pakar bahasa Poerwadarminta, umbul dalam bahasa Jawa sering diartikan dengan toek (sumber air) yang berwujud bloembangan, asaling kali, kolam yang berisi air dari sungai. Dalam dokumen Kabar Paprentahan (1932) diketahui bahwa Klaten tempo doeloe sohor sebagai wilayah sing tumumpang banyu dibandingkan daerah tetangga. Sebab itulah, Klaten yang punya sumber air melimpah ruah itu menjadi salah satu ”juru selamat”.

Akan tetapi, jangan lekas buru-buru menepuk dada dengan keberadaan umbul air bersih nan segar itu. Pasalnya, bagaimanapun, ia adalah salah satu anugerah mulia dari Gusti Pangeran yang mestinya dibagikan untuk kemaslahatan umat. Detik itu, neraca sejarah menimbang bangsa pribumi kalah pintar dengan bangsa kulit putih untuk urusan teknik macam pipa air dan turbin yang njlimet. Pendahulu kita masih sibuk berkutat dengan teknologi toya oncoran (mengalirkan air dari bambu) dan membikin saluran lewat sungai kecil dengan petugas ulu-ulu atau jagatirta, sedangkan pemerintah Landa sudah piawai membuat jaringan air bersih dan drainase modern yang rapi lantaran mendatangkan –pinjam istilah dari Benjamin S– tukang insiyur dari Negeri Kincir Angin.

Bagi Surakarta yang disemati predikat ”jantungnya pulau Jawa” ini, air bersih dianggap bagaikan emas pada periode kolonial. Raden Ngabehi Samsudin Probohardjono dalam memoarnya bercerita cukup bagus, bahwa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Keraton Kasunanan mengandalkan sumber air dari Pengging Boyolali yang disalurkan melalui sungai yang kelak menjadi Kali Larangan. ”Sunan Paku Buwana III njupuk banyu umbul Pengging, bawah Banyudana, kagawakeke kali, ilining banyu anjog ung kedhaton, banyune kanggo ngresiki sajroning kedhaton, kanggo padusan lan kaperluan liya-liyane,” tulis priyayi itu. Realitas masa lampau ini diawetkan dalam memori penduduk dengan menciptakan tembang macapat Mijil yang terkenal: umbul Pengging, pacangkoking puri; anjog ing kedhaton; kali Pepe mangetan iline; panggung Jebres angokang ing margi; ganggang ing Semanggi; kali Jenes kidul. Artinya, sejak abad XVIII kebutuhan air keraton disuplai oleh daerah luar Solo.

Selain menyedot air dari luar, penghuni kota juga berusaha mencari air dari berbagai sumber. Kurun itu, air bersih terhitung sebagai fasilitas perkotaan yang berbanderol mahal. Hanya bule-bule Belanda dan juragan Tionghoa yang sanggup menjangkaunya. Air bersih yang bagus diambil dari sumber artesis, sedangkan wong cilik cukup memperoleh air bersih dari belik (embrio sumur Mbah Meyek) dan sungai. Tercatat, kawasan Jebres yang menjadi ruang hunian Belanda terdapat sebuah reservoir yang bagus dengan ketinggian 10 meter. Dari menara ini air bersih disediakan untuk rumah-rumah orang Eropa.

Baru tahun 1926 manajemen penyediaan air mulai terbangun. Babad Sala menginformasikan, tahun itu di Surakarta berdiri NV Hoogdruk Waterleiding, yakni perusahaan air minum tekanan tinggi yang mengusahakan adanya air ledeng yang mengalir ke rumah tangga. Sumber air diambil dari Cokro Tulung, Kawedanan Delanggu. Dana operasional dipinjami oleh pemerintah Gubernemen, Kasunanan dan Mangkunegaran. Butuh waktu lama untuk membangun sistem distribusi air bersih yang ciamik. Baru enam tahun kemudian, perusahaan ini mengadakan assainering, yaitu pembuatan saluran air di dalam kota dengan memasang gorong-gorong dari beton bis, demi mempercepat arus aliran air bila musim penghujan tiba. Kala itu, pejabat Kabupaten Klaten tak menuntut retribusi seperti sekarang ini, sebab wilayah kekuasaannya berada di bawah Istana Kasunanan. Berkat kemurahan hati dan kekompakan ketiga pembesar tadi, warga pun menikmati air ledeng. Dari sinilah, secara tidak langsung air sesungguhnya merukunkan mereka bertiga yang tengah berkonflik politik.

Dalam dunia batin Jawa, kita dituntut dapat menyelaraskan kehidupan sosial dengan cara mengekang sikap egois, meluruhkan paham individualisme, dan menggusur nafsu serakah. Lewat air yang merupakan barang pemberian Tuhan inilah kita diuji apakah mampu membuahkan kondisi sosial yang guyup, damai dan rukun seperti leluhur kita dulu. Ada kalanya, kita juga perlu berterima kasih kepada pemerintah kerajaan dan Belanda yang telah meninggalkan warisan berharga itu.

Sekali lagi, NV Hoogdruk Waterleiding yang disokong tiga penguasa itu tidak hanya meninggalkan jejak berupa saluran air Klaten-Surakarta yang dewasa ini dimanfaatkan oleh PDAM Solo, melainkan juga menyisakan pesan semangat untuk saling berbagi. Jadi, apabila pemerintah Klaten mengharapkan retribusi, sebaiknya harga yang dipatok tidaklah besar, karena spirit air Cokro Tulung memang untuk tetulung. Akan lebih bijak jika Klaten meneruskan warisan spirit masa lalu itu.

Editor: | dalam: Kolom |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »