Soloraya
Jumat, 14 Desember 2012 - 23:42 WIB

Kasus Diare di Mojolaban Sukoharjo Meningkat

Redaksi Solopos.com  /  Ahmad Mufid Aryono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

SUKOHARJO — Penyakit diare di Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, warga yang terkena sakit diare meningkat dua kali lipat.

Petugas survey Puskesmas Mojolaban, Etik Savitri, saat ditemui Solopos.com, Jumat (14/12/2012), mengatakan pada November lalu pihaknya mencatat 57 orang terkena diare. Sedangkan hingga Desember ini puskesmas mencatat ada 122 orang warga yang terkena diare.

Advertisement

“Data itu bukan hanya didapat dari pasien yang memeriksakan diri di Puskesmas Mojolaban, tapi juga dari berbagai rumah sakit swasta yang bekerja sama dengan puskesmas. Laporan itu kami terima sepekan sekali,” ujar Etik, Jumat.

Menurut Etik, diare yang diderita tersebut masih dalam taraf bisa tertangani dan tidak sampai rawat inap di puskesmas maupun rumah sakit. Mayoritas warga yang menderita diare itu mengalami dehidrasi ringan. Penanganan terhadap pasien penderita diare, kata dia, hanya diberikan obat diare dan mengimbau kepada pasien untuk makan dan minum sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Mojolaban, dr Bambang S, mengatakan angka warga yang terkena diare di Mojolaban itu belum sampai pada taraf berbahaya. Kendati demikian, pihaknya tetap mewaspadai dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat melalui bidan dan petugas posyandu yang tersebar di berbagai desa di Mojolaban. Penyuluhan yang diberikan yakni mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Advertisement

Menurut Bambang, di Mojolaban bisa saja terjadi ledakan penyakit diare bila masyarakat tidak menerapkan PHBS. “Diare itu selalu dekat dengan gangguan PHBS,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, beberapa desa di Mojolaban yang berpotensi banjir, seperti Desa Laban, Tegalmade dan Gadingan, juga berpotensi terjadi ledakan diare. Pasalnya, bila air sumur yang dikonsumsi warga di tiga desa tersebut kotor lantaran terkena air bah, maka air sumur itu tidak layak konsumsi. Bila warga masih mengonsumsinya, maka dikhawatirkan akan terjadi gangguan pencernaan.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif