KURIKULUM 2013
Kualitas dan Kuantitas Guru Belum Merata, DPR Pesimistis

Anggota Komisi X DPR, Dedi "Miing" Gumelar menjawab pertanyaan wartawan di Balaikota Solo saat hadir dalam uji publik rencana penerapan Kurikulum 2013. (JIBI/SOLOPOS/Chrisna Chanis Cara)Anggota Komisi X DPR, Dedi "Miing" Gumelar menjawab pertanyaan wartawan di Balaikota Solo saat hadir dalam uji publik rencana penerapan Kurikulum 2013. (JIBI/SOLOPOS/Chrisna Chanis Cara)

SOLO – Wacana pengguliran kurikulum baru pada 2013 terus menimbulkan pro dan kontra. Kalangan DPR terang-terangan menunjukkan sikap pesimisnya terkait rencana tersebut. Legislatif menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum membenahi kualitas guru yang menjadi faktor utama keberhasilan kurikulum baru.

“Kami lihat pemerintah terburu-buru. Apapun bentuk kurikulumnya, sumber daya manusia (SDM)-nya lah yang harus dibenahi dulu,” ujar anggota Komisi X DPR, Dedi “Miing” Gumelar, saat ditemui di sela-sela uji publik mengenai kurikulum baru di Balaikota Solo, Jumat (7/12/2012). Pihaknya melihat sejauh ini kualitas dan kuantitas guru di Indonesia belum merata. Miing pun ragu dengan efektivitas pelatihan yang dirancang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), M Nuh.

Diketahui, Mendikbud berencana melatih 350.000 master teacher selama enam bulan menjelang penerapan kurikulum baru. “Padahal guru yang kita miliki sampai 2,9 juta orang. Dengan cakupan pelatihan dan waktu enam bulan, apa benar bisa optimal? Kurikulum bagus tapi penyampaiannya jelek sama saja nol,” tukasnya. Sebelum menerapkan kurikulum baru pada Juni 2013, DPR mewanti-wanti pemerintah agar mendengar semua aspirasi yang ada. Pasalnya DPR sempat kecewa lantaran tak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum tersebut. “Pemerintah langsung jalan sendiri, padahal kami juga menampung aspirasi,” tutur Miing. Lebih lanjut, ia meyakini kurikulum baru belum sepenuhnya final. “Belum dipastikan. Masih harus melewati serangkaian uji publik,” katanya.

Selain mengritisi waktu penerapannya, DPR menyorot konsep kurikulum tersebut. Menurut Miing, scientific approach (pendekatan ilmiah) yang dicanangkan Mendikbud kurang pas dengan kondisi Indonesia. Miing menilai pendekatan budaya yang mengutamakan rasa lebih cocok diterapkan pada anak didik. “Tengok China, 15 tahun terkahir mereka membangun pendidikannya dari attitude dan berhasil. Kurikulum kita saat ini menafikan kodrat Tuhan. Memang kita banyak orang pintar, tapi sedikit orang benar.”

Editor: | dalam: Pendidikan |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »