Kasus Gizi Buruk Melonjak 100%

WONOGIRI—Kasus baru gizi buruk pada anak usia balita di Wonogiri sepanjang Januari-September 2012 meningkat hampir 100%. Tahun 2011, kasus baru gizi buruk mencapai 105 kasus. Sedangkan Januari-September 2012 tercatat ada 202 kasus baru.

Jumlah itu adalah akumulasi kasus baru yang muncul dari bulan ke bulan. Sebagian ada yang sudah tertangani sehingga meningkat statusnya dari gizi buruk ke gizi kurang atau sembuh sama sekali. Sebagian lainnya belum atau masih dalam proses penanganan.
Sayangnya, anggaran untuk penanganan gizi buruk itu terbatas. Dalam RAPBD 2013, penanganan gizi buruk hanya diusulkan Rp71 juta.

Kepala Seksi (Kasi) Upaya Kesehatan Keluarga dan Gizi, Yeria Heru Indarti, mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri, Widodo, menjelaskan peningkatan kasus baru sepanjang 2012 terjadi karena beberapa sebab.

“Sebab paling umum adalah kemiskinan. Tapi tidak bisa juga dikatakan pada 2012 masyarakat Wonogiri lebih miskin dari 2011. Sebab gizi buruk juga berkaitan dengan adanya penyakit kronis yang bisa disebabkan penyakit bawaan,” terang Yeria, kepada Espos, Kamis (22/11).
Dia menambahkan sebab lain kasus gizi buruk adalah kesalahan pola asuh. Yeria menuturkan di Wonogiri banyak orangtua yang meninggalkan anak mereka di desa untuk merantau ke kota. Kondisi ini membuat pengawasan makanan anak kurang, sehingga memicu kurang gizi yang selanjutnya berujung pada gizi buruk.

Yeria mengatakan jajaran DKK Wonogiri bersama puskesmas dan posyandu telah melakukan upaya penanganan. Upaya itu dinilai cukup berhasil sebab sampai September, tinggal 72 kasus gizi buruk yang masih perlu penanganan. Sisanya sudah tertangani.

Yeria menjelaskan penanganan kasus gizi buruk diawali dengan deteksi kurang gizi yang ditandai berat dan tinggi badan anak di bawah garis merah pada kartu menuju sehat (KMS). Di tingkat itu, Yeria mencontohkan pada posisi September tercatat 485 anak dari total balita yang ditimbang di posyandu sebanyak 51.540 anak. Selanjutnya, dilakukan penanganan dengan pemberian makanan tambahan (PMT) dan pemantauan. Setelah penanganan tersebut, angka kurang gizi ditetapkan lagi berdasarkan berat badan menurut umur (BBU). Di tingkat ini pihaknya mencatat ada 287 kasus.

Berikutnya, setelah dilakukan berbagai penanganan, termasuk pelayanan kesehatan di klinik gizi, jumlah anak balita yang mengalami gizi buruk berdasarkan berat badan dan tinggi badan (BBTB) menyusut menjadi 72 anak. “Biasanya gizi buruk itu karena menderita penyakit kronis, sehingga upaya penanganan standar, seperti PMT, pemberian multivitamin, dan lainnya, tidak membawa hasil,” sambung Yeria.

Ironisnya, di tengah tingginya kasus gizi buruk, anggaran daerah yang ditujukan untuk penanganan gizi buruk minim. Tahun 2012, DKK hanya menerima anggaran Rp45 juta untuk operasional klinik gizi senilai Rp30 juta dan bantuan rawat jalan serta rawat inap anak balita gizi buruk senilai Rp15 juta. Sedangkan tahun 2013, usulan anggaran untuk dua keperluan itu hanya bertambah menjadi Rp71 juta. Yeria mengakui anggaran untuk penanganan kasus gizi buruk terbatas. Dia berharap anggaran untuk penanganan kasus gizi buruk dapat ditingkatkan agar penanganan kasus tersebut lebih optimal.

Ketua DPRD Wonogiri, Wawan Setya Nugraha, memastikan akan mengecek usulan anggaran penanganan gizi buruk agar sesuai kebutuhan di lapangan “Untuk masa depan generasi Wonogiri, mengapa tidak dialokasikan lebih. Itu akan kami usulkan di rapat Banggar tahap II,” ujar dia, saat dihubungi Solopos.com, Kamis (22/11).

Editor: | dalam: Wonogiri |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »