TRADISI 1 SURA
Kepala Kerbau Diarak ke Lereng Atas Merapi

14Seekor-kerbau.jpeg


BOYOLALI -
Memperingati 1 Sura atau Muharam, warga Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, Rabu (14/11), menggelar sejumlah ritual. Salah satunya, mereka akan membawa sebuah kepala kerbau di Pasar Bubrah atau kawasan lereng Gunung Merapi.

Ritual itu menjadi puncak dari serangkaian acara yang dikenal dengan istilah Sedekah Gunung yang dihelat sejak tadi siang. Menurut rencana, kepala kerbau itu dibawa oleh empat orang dengan pimpinan Mbah Surat, sesepuh di Lencoh. “Mbah Surat sudah langganan setiap tahun membawa kepala kerbau, nanti pelaksanaan pukul 00.00 WIB. Mungkin empat orang yang naik hingga Pasar Bubrah,” kata salah satu panitia acara itu, Subagyo kepada Solopos.com.
Ia lantas mengabarkan gerimis turun di wilayahnya. Meskipun demikian, rangkaian acara lain masih berlangsung, salah satunya pertunjukan beberapa kesenian dari sepuluhan kelompok di Lencoh. Acara itu digelar di Joglo Wisata Selo.

Panitia memulai Sedekah Gunung dengan upacara penyerahan seekor kerbau yang telah dihias oleh Bupati Boyolali Seno Samodro. Kerbau tersebut lalu dikirab bersama dari Lapangan Samiran menuju Joglo Wisata Selo. Sampai di lokasi itu, kerbau disembelih dan dagingnya dimanfaatkan warga untuk dimasak. Warga hanya menyisakan kepala kerbau untuk ritual tengah malam di Pasar Bubrah tadi. Ritual tersebut diyakini warga Lencoh sebagai rasa syukur dan harapan mendapat keselamatan.

Bupati Seno Samodro mengatakan Pemda Boyolali mendukung pelestarian budaya itu. Dia mengaku Sedekah Gunung tahun ini dibantu pemerintah lewat pengadaan kerbau. “Kami berharap budaya semacam ini mampu menarik lebih banyak minat pengunjung. Dulu-dulunya kan kerbau untuk acara ini secara biaya ditanggungkan kepala desa, dari itu kami bantu,” ujar Seno sesaat setelah melepas kirab Sedekah Gunung di Lapangan Samiran, kepada Solopos.com. (JIBI/SOLOPOS/Oriza Vilosa)

Berita Terkait

Editor: | dalam: Boyolali |

8 Komentar pada “TRADISI 1 SURA: Kepala Kerbau Diarak ke Lereng Atas Merapi”

  1. syregar
    15 November 2012 pukul 14:32

    apa acara semacam ini tdk bertentangan dgn syariat agama islam?

  2. GUNAWAN ABU HANUN JAMBI
    15 November 2012 pukul 20:38

    Assalaamu’alaikum…
    Bapak Bupati Boyolali yang di Rahmati Allaah..Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan ritual tersebut, jika memang dakwah tauhid belum sampai kepada rakyat sekitar rencoh. ada baiknya MUI Kabupaten Boyolali diajak rembug dalam menetapkan apakah ritual itu sesuai syariat Islam atau bahkan bertentangan dg syari’at islam…
    semoga Allah memberikan hidayah dan taufiknya untuk Bapak Bupati Boyolali dan seluruh masyarakat Boyolali…
    Wassalaamu’alaikum…

  3. wow
    16 November 2012 pukul 02:02

    sudahlah kau, diam saja.

  4. susanta
    16 November 2012 pukul 11:05

    acara yang bertentangan dengan Islam, lebih bahaya dari pada kelaparan.takutlah terhadap dosa syirik.

  5. Sang Utusan
    20 November 2012 pukul 08:56

    Salah satu bentuk menyekutukan Allah’
    coba renungkan cuplikan berita ini………”Ritual tersebut diyakini warga Lencoh sebagai rasa syukur dan harapan mendapat keselamatan”

    • Pratik
      8 Desember 2012 pukul 16:58

      alamak bro!! lama dh tak bukak blog nih! manyak menda dh miessd nk baca ni.. tergezut gak nmpak kurus laaa!!! apa tips??? cmner boleh turun smpai 10kg ni?? kite nak turun 0.5kelo pun syusyah!!

  6. biba
    21 November 2012 pukul 00:01

    ksihan tuh krbaunya…
    .

  7. 17 Januari 2013 pukul 03:17

    Untuk para pembaca semua,Acara ini memang namanya sedekah gunung,Tetapi inti dr acara ini tetap bertujuan memohon berkah dan keselamatan kepada Tuhan YME dan bukan memohon keselamatan kepada gunung merapi. . . . .

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris

    No items.

Menarik Juga »