Seniman yang selama ini juga dikenal sebagai dalang wayang kontemporer, Slamet Gundono, tampil dalam Solo City Jazz di Pasar Triwindu, kawasan koridor Ngarsopuro, Solo, Sabtu (22/9/2012) malam. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya) Seniman yang selama ini juga dikenal sebagai dalang wayang kontemporer, Slamet Gundono, tampil dalam Solo City Jazz di Pasar Triwindu, kawasan koridor Ngarsopuro, Solo, Sabtu (22/9/2012) malam. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)
Sabtu, 22 September 2012 22:36 WIB Ika Yuniati/JIBI/SOLOPOS Issue Share :

SOLO CITY JAZZ 2012
Bebek-Bebek Ramaikan Mantra Jazz-Jaipong Slamet Gundono

Seniman yang selama ini juga dikenal sebagai dalang wayang kontemporer, Slamet Gundono, tampil dalam Solo City Jazz di Pasar Triwindu, kawasan koridor Ngarsopuro, Solo, Sabtu (22/9/2012) malam. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)

Mengisi pementasan Solo City Jazz 2012, seniman serba bisa, Slamet Gundono, membawa pasukan bebeknya. Di antara bunyi ketipung kendang jaipong, sulukan dan saron, dalang wayang suket ini memasukkan suara-suara bebek pada lagu keduanya yang berjudul Selamat Malam Bebek. “Selamat malam, bebek-bebek kekasihku. Kwek-kwek, kwek-kwek, kwek-kwek, kwek-kwek,” nyanyi Slamet dengan nada tinggi sembari menabuh gamelan.

Improvisasi yang dibuat Slamet Gundono dalam pementasan hari terakhir Solo City Jazz, Sabtu (22/9), di depan Pasar Triwindu malam itu memang memukau. Pada persembahan terakhir, membawakan lagu Kembang Sruni, dia bersama band’nya yang diberi nama Suket Galau Etnic Band, penuh prima, memainkan semua alat yang mereka bawa seperti saron, kendang jaipong, gitar, ketipung dan bass.

Dengan tempo cepat, suara keras dari perpaduan alat musik jazz dan tradisional itu memancing ribuan penonton yang datang untuk sekadar menggerakkan kepala dan tangannya. Tepuk tangan dan teriakan para penonton pun mengiringi pentas kali pertama Slamet Gundono dalam Solo City Jazz malam itu.

Membawakan konsep Mantra Cinta, Slamet menggeber tiga lagu ciptaannya bersama Suket Galau Etnic Band. Lagu-lagu tersebut ialah Mantra Cinta, Selamat Malam Bebek Kekasihku dan Kembang Sruni. “Jazz itu musik yang bebas. Bisa dimasuki aliran apapun. Itulah kenapa saya menggabungkan unsure etnik lebih banyak. Agar tetap nge-jazz tapi tetap tidak meninggalkan sisi tradisional yang kita miliki,” ucap Slamet belum lama ini kepada Solopos.com.

Bukan hanya Slamet, penyanyi cilik, Michele Kunhle yang berkolaborasi dengan Anto Prayogo dan Friends malam itu juga memukau penonton. Lewat suara tingginya, bocah asal Solo ini menyanyikan dua lagu Twinkle-Twinkle Little Star dan Over The Rainbow. Ditutup dengan pantun Jawa, Michele sempat membuat penonton ger-geran. “Cekap semanten saking kula. Ana sing pengin meneh? Pengin aku tampil meneh? Ya mbayara dhewe,” celotehnya.

Solo City Jazz hari terakhir malam ini juga menghadirkan kolaborasi-kolaborasi jazz-tradisional dari sejumlah musisi ternama tanah air. Di antaranya Javajine Percussion asal Solo, Emerald BEX dan pesinden Sruti Respati dan musisi kenamaan dari Bali, I Wayan Balawan bersama grup Gamelan Fusion-nya.

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) DP Mura…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Komunisme dan Logika Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (23/9/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, seorang editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Mungkin kita pernah membaca pernyataan bahwa adanya kemiskinan dan ketimpangan ekonomi…