Bupati Klaten Akan Evaluasi Pengadaan Seragam

Bupati Klaten, Sunarna (Dok/JIBI/SOLOPOS)Bupati Klaten, Sunarna (Dok/JIBI/SOLOPOS)

Bupati Klaten, Sunarna (Dok/JIBI/SOLOPOS)

KLATEN–Bupati Klaten, Sunarna, mengaku akan mengevaluasi sistem pengadaan seragam sekolah di SD dan SMP di Klaten yang sudah menyeret 22 kepala sekolah (kasek) ke jalur hukum.

Bupati tidak menginginkan kasus pengadaan seragam sekolah yang menyeret 22 kasek ke jalur hukum itu terulang di masa-masa mendatang.

Dia mengaku kasihan dengan 22 kasek yang harus berhadapan dengan hukum karena dugaan mark up pengadaan seragam sekolah. “Saya kasihan. Mereka sudah bekerja keras untuk memajukan pendidikan di sekolahnya tetapi masih harus berurusan dengan pihak berwajib,” ujar Sunarna kepada Solopos.com, Sabtu (25/8/2012).

Sunarna tidak mempersoalkan pengadaan bahan seragam melalui koperasi. Akan tetapi, dia tidak setuju jika koperasi mengambil untung terlalu besar yang memberatkan orangtua siswa. “Keuntungan itu bisa digunakan untuk menggerakkan koperasi lebih maju. Keuntungan itu dibolehkan selama dalam batas kewajaran,” paparnya.

Sunarna menegaskan tidak semua seragam dan atributnya itu harus dibeli melalui koperasi sekolah. Melalui Dinas Pendidikan, kata Sunarna, Pemkab Klaten tidak mewajibkan orangtua membeli semua bahan seragam melalui koperasi. “Kalau untuk bahan kain OSIS atau pramuka masih bisa beli sendiri di pasar. Kalau untuk batik, olahraga dan sejumlah atribut itu bisa dibeli di koperasi supaya seragam,” katanya.

Pada tahun mendatang, Sunarna berjanji akan menerbitkan surat edaran yang menyebut orangtua siswa tidak wajib membeli semua jenis seragam sekolah melalui koperasi. Disinggung adanya dugaan kongkalikong antara koperasi, kasek, dan toko kain, Sunarna mengatakan mestinya hal itu tidak terjadi. “Saya tidak tahu kebenarannya. Bisa ditanyakan langsung pada mereka yang bersangkutan,” tambahnya.

Editor: | dalam: Klaten |

3 Komentar pada “Bupati Klaten Akan Evaluasi Pengadaan Seragam”

  1. joko
    26 Agustus 2012 pukul 06:42

    narno omong kosong. Hasil penjualan seragam kan buat setoran ke kantongmu! Narno, narno… Kasihan anak buahmu tu, kejar setoran, d bela2in mpe masuk sel…
    Satu lagi, smp n 1 cawas jadi mahal gara2 kejar setoran ke kamu. Dasar golek pulihan…

  2. wong klaten
    26 Agustus 2012 pukul 18:12

    Seharusnya di disekolah negeri sd dan smp tidak boleh namanya jualan,terutama seragam,kalau olahraga dan batik masih bisa ditolerir tpi harganya sesuai pasaran,masak di pasaran harga 30 ribu tpi didlm sekolah 80 ribu,sangat tidak masuk akal dan hanya mengejar keuntungan semata,ingat sd dan smp negeri dpt dana BOS sampai ratusan juta sampai milyaran,manfaatkan sebaik2 nya,hindari pungutan sekecil mungkin atau bahkan gratisin seragam,kepala sekolah harus kreatif dan inovatif,anda sudah digaji sama negara dan jangan berbisnis untuk keuntungan pribadi,berlaku untuk sekolah,uptd dan dinas pendidikan

  3. joko keprok mafia kasus
    23 September 2012 pukul 02:09

    urusi juga tu tangan kananmu yg bernama sutar joko aLias keprok yg telah menjadi mafia kasus,menjual belikan jabatan,menjual belikan bantuan dan memanipulasi data bantuan ternak…dia sekarang bisa membuat rumah dgn biaya hampir 6 milyar dan punya mobil 3 serta sapi hasil dari memanipulasi data….

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris

    No items.

Menarik Juga »