Bekas rumah administratur Pabrik Es Saripetojo menjadi satu-satunya bangunan yang dipertahankan di kompleks bekas pabrik es itu, yang bakal dijadikan hotel. Untuk memastikan terjaganya nilai artistik dan budaya, pembangunan hotel itu akan menyertakan Ikatan Arsitektur Indonesia sebagai pendamping. (JIBI/SOLOPOS/Sunaryo Haryo Bayu) Bekas rumah administratur Pabrik Es Saripetojo menjadi satu-satunya bangunan yang dipertahankan di kompleks bekas pabrik es itu, yang bakal dijadikan hotel. Untuk memastikan terjaganya nilai artistik dan budaya, pembangunan hotel itu akan menyertakan Ikatan Arsitektur Indonesia sebagai pendamping. (JIBI/SOLOPOS/Sunaryo Haryo Bayu)
Rabu, 15 Agustus 2012 17:46 WIB Insetyonoto.JIBI/SOLOPOS Ekonomi Share :

HOTEL SARIPETOJO
Ikatan Arsitektur Indonesia Akan Dilibatkan Dalam Pembangunan

Bekas rumah administratur Pabrik Es Saripetojo menjadi satu-satunya bangunan yang dipertahankan di kompleks bekas pabrik es itu, yang bakal dijadikan hotel. Untuk memastikan terjaganya nilai artistik dan budaya, pembangunan hotel itu akan menyertakan Ikatan Arsitektur Indonesia sebagai pendamping. (JIBI/SOLOPOS/Sunaryo Haryo Bayu)

SEMARANG – Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Semarang akan dilibatkan dalam pembangunan hotel di bekas bekas Pabrik Es Saripetojo, Laweyan, Solo.

”Prof Eko Budiharjo [mantan Ketua IAI Jateng] menyarankan agar IAI Semarang dilibatkan dalam pembangunan hotel di Saripetojo. Saya mangga saja,” kata Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, seusai menerima Prof Eko Budihardjo di Kantor Gubernur Jl Pahlawan, Kota Semarang, Rabu (15/8/2012). Mengenai alasan dilibatkannya IAI, menurut gubernur supaya dalam desain bangunan hotel nantinya ada nuansa artitistik budaya Solo.

Lebih lanjut Bibit menyatakan, pembangunan hotel di bekas Pabrik Es Saripetojo, Laweyan, Solo sudah tak ada permasalahan. ”Saripetojo sudah tak ada masalah lagi, tinggal proses membangun hotel,” tandasnya. Secara legalitas hukum, lanjut gubernur, bekas pebrik es itu bukan sebagai bangunan cagar budaya, sehingga bisa diberdayakan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi wilayah dengan dibangun hotel.

Sementara Prof Eko Budihardjo menyatakan, dilibatknya IAI supaya desain bangunan hotel tidak hanya sekadar blok kotak-kotak yang kurang enak dipandang. “Pembangunan hotel harus ada seninya, sehingga menarik dan enak dipandang mata,” ujar dia. Dia menambahkan pembangunan hotel tidak semuanya digunakan bangunan. Namun, ada sebagian bangunan tetap dipertahankan, misalnya rumah dinas minister yang mempunyai nilai estetika yang bagus.

Menurut mantan Rektor Undip Semarang ini, kawasan bekas Pabrik Es Saripetojo bukan cagar budaya, tapi merupakan konservasi yang dinamis yang memungkinkan adanya bangunan baru. Berbeda dengan bangunan rumah dinas Walikota Solo, Lojigandrung, Kraton Solo, dan kantor Bank Indonesia yang tak bisa diubah karena kawasan konservasi. ”Setelah adanya penolakan pembangunan mall di bekas Pabrik Es Saripetojo, kami mengusulkan dibangun hotel, convention center, dan kawasan rekreasi, tapi disepakti dibangun hotel,” ujar Prof Eko Budihardjo.

Sebelumnya Direktur Utama Perusahaan Daerah (Perusda) Citra Mandiri, Sayuti menyatakan bekas Pabrik Es Saripetojo akan dibangun hotel bintang empat. Pembangunan hotel tersebut diperkirakan menelan anggaran dana sekitar Rp180 miliar.
“Semua pendanaan ditanggung investor PT Wira Taruna Semarang yang mengerjakan proyek hotel,” katanya.

lowongan kerja
lowongan kerja PT.DWI ABADI FARMA-USFI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Iklan Baris
  • Lowongan Administrasi

    LANGSUNG Kerja!!!! AKUR OPTIK BantuL dengan 13 Cab Membutuhkan Adminitrasi : – Berpengalaman Dalam Bidan…

Leave a Reply



2

Kolom

GAGASAN
Investasi Hijau di Soloraya

Gagasan Solopos, Rabu (1/2/2017) I Gusti Putu Diva Awatara. Pengajar Program Magister Manajemen STIE AUB Solo. Beralamat email di gruppe_cemara@yahoo.co.id Solopos.com, SOLO — Kunjungan Bupati Sukoharjo dan Bupati Karanganyar terkait pembelajaran pengelolaan sampah di Amerika Serikat pada akhir Desember 2016 lalu…