Sebanyak 80 lukisan media pasir dihadirkan dalam pameran yang berlangsung di kantor Dinas Pariwisata DIY, 3 -12 Agustus. (JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto)
Selasa, 7 Agustus 2012 14:10 WIB Kurniyanto/JIBI/Harian Jogja Issue Share :

KALIGRAFI PASIR
Dengan Pasir Faizan Kembali ke Alam

PASIR—Sebanyak 80 lukisan media pasir dihadirkan dalam pameran yang berlangsung di kantor Dinas Pariwisata DIY, 3 -12 Agustus. (JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto)

JOGJA—Puluhan lukisan bercorak kaligrafi bermacam objek terpampang di dinding aula kantor Dinas Pariwisata Propinsi DIY. Jika dilihat dari kejauhan, lukisan yang dipamerkan itu seperti lukisan kaligrafi pada umumnya. Namun jika dilihat lebih dekat, ada yang berbeda dengan karya seni tersebut.

Lukisan karya dari Faizan Mahdatu itu ternyata menggunakan media pasir, yang tidak lazim dipilih dalam media seni rupa termasuk lukisan kaligrafi yang selama ini cenderung menggunakan cat minyak maupun media lainnya.

Kepada Harian Jogja, perupa asal Lampung tersebut menuturkan, salah satu alasannya menggunakan media pasir lantaran belum banyak seniman di Jogja yang menggunakan media pasir.

“Jadi kenapa tidak membuat media pasir saja untuk membuat sesuatu yang berbeda daripada seniman pada umumnya,” katanya, Selasa (6/8) malam.

Tak hanya itu, menurut alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja itu, pasir juga mudah didapat lantaran berasal dari alam. “Selain itu saya memang ingin back to nature,” papar seniman yang sudah menggunakan media pasar sejak 2002 silam.

Menurut Faizan, dalam pameran bertajuk Pasir Bertasbih yang digelar di kantor Dinas Pariwisata DIY, ia menggunakan karya yang ia buat dari 2007-2012. Media pasir yang ia pakai itu didatangkan dari sejumlah kota bahkan luar pulau seperti dari Lampung, Cilacap, Bangka.

“Pasir asal Lampung, Cilacap, dan Bangka banyak yang saya pakai karena cenderung berwarna putih. Adapun pasir Jogja lebih ke warna hitam. Pasir itu lantas saya kombinasikan,” terangnya.(ali)

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….