Dailymail img Dailymail img
Kamis, 2 Agustus 2012 13:37 WIB Anik Sulistyawati/JIBI/SOLOPOS Sport Share :

Mengintip “ Kekejaman” Pusat Pelatihan Calon-Calon Bintang Olimpiade di China

Ye Shiwen

Perenang muda asal China Ye Shiwen membuat kejutan dalam Olimpiade London 2012 ini. Pada Selasa (31/7), Ye, yang baru berusia 16 tahun, meraih emas kedua di nomor 200 meter gaya ganti, hanya sehari setelah ia menjadi yang tercepat di nomor 400 meter gaya ganti, di mana ia juga mencatatkan rekor dunia baru.

Gadis ini mencatatkan waktu 58.68 detik pada 100 meter terakhir, catatan waktu yang menyamai torehan perenang Amerika Serikat, Ryan Lochte, di sektor putra. Hebatnya, pada putaran terakhir ia lebih cepat daripada Lochte.

Kehebatan Ye, juga menimbulkan kecurigaan kemungkinan dia memakai dopping. namun Ye sendiri mengatakan prestasinya tersebut merupakan buah dari latihan dan kerja keras.

Lantas bagaimana China mencetak bintang-bintang Olimpiade seperti Ye?  Mari kita menengok sebuah pusat pelatihan renang di China dalam mencetak perenang-perenang andalan mereka.

Seorang bocah perempuan di pusat pelatihan Olimpiade di China tampak kesakitan, saat seorang pelatih berdiri di atas kaki bocah itu.

Gambar kartun roket dan astronaut di pakaian renang  menunjukkan usia bocah itu masih sangat belia ketika pelatih menggemblengnya selayaknya kepada atlet dewasa di dunia Barat.

 

Dailymail.img

Seperti dilansir dari Dailymail, Kamis (2/8/2012), Nanning Gymnasium di Nanning, China, adalah satu dari sekian banyak pusat pelatihan “kejam” yang tersebar di negara itu di mana para orangtua menitipkan anak mereka untuk belajar bagaimana menjadi juara.

Namun meskipun teknik-teknik pelatihan tampak ekstrem bagi mata orang-orang Barat, mereka menunjukkan gambaran jelas mengapa para atlet China di Olimpiade London begitu mahir berenang, menyelam, mengangkat dan menembak dalam mencapai kemenangannya.

Pusat-pusat pelatihan di sana biasa mendidik anak di usia yang sangat muda, dan kelompok anak-anak ini tampaknya tidak memiliki perbedaan saat mereka berlomba menyelesaikan tugas rutin mereka berlatih di palang, lingkaran dan matras.

Anak laki-laki dan perempuan yang tampaknya tidak lebih berusia lima tahun dilatih untuk berenang di balok, bergelantungan dari sepasang lingkaran dan jungkir balik di matras selama sesi latihan fisik.

 

Dailymail img

Jika sudah menginjak remaja mereka diharapkan bisa mengulang kesuksesan seperti yang diraih Ye Shiwen.

Sejumlah poto-poto “mengerikan” menunjukkan anak-anak China menangis karena kesakitan diposting di internet akhir Januari lalu. Mungkin saat itu mereka lupa alasan  mereka berada di sana.  Namun sebuah tanda besar yang dipasang di dinding mengingatkan mereka. Emas, itulah alasannya.

Dalam benak mereka juga ditanamkan bahwa misi mereka adalah mengalahkan Amerika dan negara-negara lain untuk bisa mencapai podium.

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…